Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Eksploitasi Sumber Mata Air Muria Kudus Kembali Dikeluhkan

Eksploitasi Sumber Mata Air Muria Kudus Kembali Dikeluhkan
Perwakilan masyarakat Desa Kajar saat beraudiensi dengan Bupati Kudus, Selasa (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, KudusEksploitasi sumber mata air Pegunungan Muria secara ilegal kembali marak. Petani lereng Muria mengeluhkan kemunculan eksploitasi air secara ilegal itu.

Mereka pun wadul ke Bupati Kudus HM Hartopo terkait persoalan itu. Sebab, mereka mulai merasakan dampaknya akibat perbuatan ilegal tersebut. Yakni, saluran irigasi persawahan di sekitar lereng mulai kering.

Para petani dan masyarakat lereng Muria yang diwakilkan Aliansi Masyarakat Desa Kajar, Kecamatan Dawe, mengadukan langsung persoalan itu ke orang no satu di Kabupaten Kudus.

“Permasalahannya masih sama, penataan sumber mata air muria, kami harapkan ini bisa difungsikan sesuai aturanlah agar tidak ada yang dirugikan secara sepihak, alam juga bisa terjaga,” kata koordinator aliansi, Sutikno, usai beraudiensi.

Baca juga: Pemkab Kudus Stop Izin Komersialisasi Air Muria

Berdasarkan pengamatannya, masih banyak sumber mata air yang dikuasai sejumlah oknum. Mereka kemudian mengeksploitasinya untuk dijualbelikan. Padahal, beberapa waktu lalu mereka sudah ditindak dan ditutup.

Imbas eksploitasi air secara ilegal itu, terasa saat musim kemarau. Sungai-sungai irigrasi menjadi kering. Para petani tidak bisa mengairi sawahnya, sehingga tidak sedikit yang gagal panen.

Padahal, sebelum adanya eksploitasi, air di pegunungan muria sangat cukup untuk mengairi sawah. Beda saat ini yang harus dialiri lewat peralon.

“kalau saat seperti ini, di musim ini, kalau tidak ada airnya kan yang rugi orang banyak. saat ini apalagi, yang jadi hak petani tidak kami dapatkan,” katanya.

Menurutnya, warga lereng Muria hanya ingin ada penataan yang semestinya. Dengan begitu fungsi air dan penggunanya bisa kembali sedemikian rupa.

“Kalau hanya ditutup kan percuma, nanti kucing-kucingan lagi, airnya juga tidak bisa dimanfaatkan lagi dan tidak kembali ke alam lagi, makanya harus ditata,”  pungkasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...