Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

OPINI

Mencetak Mahasiswa Menjadi Pengusaha

Muslimin, M.Pd *)

KAMPUS adalah tempat kawah candradimukanya mahasiswa. Arti dari kawah candradimuka adalah tempat untuk menempa sesuatu menjadi lebih baik. Kaitannya dengan mahasiswa maka kawah candradimuka di sini dimaksudkan mahasiswa ditempa dengan berbagai disiplin ilmu pendidikan, di samping itu juga mereka belajar teori sekaligus praktik. Dan juga belajar dari berbagai pengalaman di lapangan secara langsung atau secara tidak langsung.

Sehingga diharapkan setelah sekian lama ditempa, maka mahasiswa akan benar-benar menjadi pribadi yang matang, cerdas, tangguh dan berkepribadian baik sekaligus siap menyongsong masa depan yang lebih baik lagi.

Judul tulisan di atas kelihatan agak menyimpang dan tidak lazim yaitu mencetak mahasiswa menjadi pengusaha. Maksudnya adalah mahasiswa yang mempunyai mental pengusaha.

Jujur saja selama ini jarang sekali mahasiswa yang mempunyai cita-cita ingin menjadi pengusaha atau entrepreneur.  Kebanyakan dari sekian mahasiswa mereka bercita-cita setelah wisuda akan mencari pekerjaan bukan menciptakan pekerjaan.

Sampai saat ini orentasi berpikir sebagian besar mahasiswa ingin melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi adalah ingin mengubah nasib hidupnya agar bisa mendapatkan pekerjaan yang enak, gaji yang gede dan bekerja sesuai dengan jurusan yang diambil ketika kuliah.

Hal ini ternyata sejalan dengan apa yang menjadi harapan orang tua. Kebanyakan orang tua mengharapkan ketika anaknya nanti selesai kuliah bisa menjadi PNS (Pegawai Negeri Sipil) atau paling tidak bisa mendapatkan pekerjaan yang enak dan gaji yang besar.

Jarang orang tua yang berpesan kepada anaknya setelah selesai kuliah agar anaknya bisa menjadi pengusaha membuka ratusan lapangan pekerjaan atau setidaknya bisa meneruskan usaha orang tuanya. Sehingga bisnis orangtua semakin besar dan maju setelah mendapatkan sentuhan tangan-tangan anak-anak muda yang terampil yang pernah mengenyam belajar sampai perguruan tinggi.

Sumber dari Liputan6.com (28 Juli 2021) menyatakan bahwa jumlah wirausaha atau entrepreneur di Indonesia masih sangat kalah jauh dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura dan Thailand. Padahal jika dilihat, jumlah penduduk dan potensi pengembangan usaha di Indonesia sangat besar.

Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) Teten Masduki mengatakan, rasio kewirausahaan Indonesia berada di level 3,74 persen. Sedangkan Malaysia, Singapura dan Thailand berada di atas angka 4 persen.

Kampus Penguat Mental Entrepreneur

Melihat data dan fakta di atas maka ternyata kita masih tertinggal jauh dalam mencetak pengusaha-pengusaha baru. Dan kampus mempunyai andil yang besar bagaimana mencetak mahasiswa yang mempunyai keinginan yang besar untuk menjadi pengusaha sukses yang nantinya mampu menciptakan ribuan lapangan pekerjaan.

Ada beberapa langkah untuk mencetak mahasiswa agar bermental entrepreneuer. Pertama, mata kuliah kewirausahaan atau entrepreneuer perlu ditambah SKS (Satuan Kredit Semester).

Kalau selama ini hanya satu SKS saja maka paling tidak ditambah dua SKS. Ini dengan maksud SKS pertama diisi menjelaskan secara gamblang teori dalam berwirausaha. Sekaligus memberikan biografi pengusaha-pengusaha sukses dari Indonesia yang mulai dari nol yang bisa dibuat sebagai kiblat bagi mahasiswa.

Pada SKS berikutnya mahasiswa harus mempraktikan terhadap teori yang sudah dipelajari dengan praktik membuka usaha baru. Ibarat kata, apapun bentuknya yang penting mahasiswa mempunyai usaha.

Ini dengan tujuan agar mata kuliah kewirausahaan itu tidak sebatas pelengkap saja atau teoritis saja. Tapi benar-benar bisa diaplikasikan dan menghasilkan puluhan pengusaha yang tangguh. Di samping mata kuliahnya ditambah menjadi dua SKS, pihak kampus juga harus menugaskan dosen yang mengajar benar-benar yang kompeten (ahli) di bidangnya dan mempunyai usaha.

Hal ini sangat penting agar mata kuliah wirausaha yang diampu oleh dosen benar-benar bisa ditiru oleh mahasiswanya. Sehingga secara disiplin keilmuan maupun pengalaman, dosen yang mengampu tidak diragukan lagi kualitasnya. Karena dosennya sudah pernah membuktikan sendiri lika likunya merintis usaha jatuh bangun dan akhirnya menjadi sukses.

Kedua, mahasiswa harus berpikir out of the box. Maksudnya adalah berpikir tanpa dibatasi batasan diri. Cara berpikir yang tidak konvensional atau berani berpikir di luar dari yang umum (uncommon ways). Contohnya kalau kebanyakan mahasiswa setelah selesai kuliah berpikirnya mencari pekerjaan ke sana kemari, maka dia berani untuk berpikir yang beda dengan kebanyakan mahasiswa yang lain dengan menjadi pengusaha dan bisa menciptakan lapangan pekerjaan bagi orang banyak.

Pemikiran seperti ini harus terus digaungkan kepada mahasiswa agar mereka menjadi mahasiswa yang berpikir kreatif dan bisa mengeluarkan ide-ide baru yang cemerlang.

Ketiga perbanyak relasi. Meski masih menyandang status mahasiswa tidak ada salahnya mahasiswa mempunyai banyak relasi. Relasi adalah hubungan pertemanan yang baik yang didasarkan kepada rasa saling percaya. Hubungan relasi bisa saja hanya sebatas pertemanan saja atau berlanjut dalam hal kerjasama.

Dalam dunia usaha seorang pengusaha harus mempunyai banyak relasi untuk menjalankan roda bisnisnya. Tidak bisa dipungkiri relasi sangat penting sekali di dalam segala hal terlebih pada dunia usaha. Karena seorang pengusaha tidak bisa bekerja sendiri tanpa bantuan relasi dari orang lain.

Dengan begitu, selesai kuliah mahasiswa tidak lagi khawatir akan tidak mendapatkan pekerjaan. Tapi dengan percaya diri mahasiswa siap menjadi seorang pengusaha yang tangguh dan mampu membuka ratusan lapangan pekerjaan. (*)

 

*) Dosen Universitas SAFIN Pati

Comments
Loading...