Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Sangkar Perkutut mewah Buatan Kudus, Harganya Capai Rp 30 juta

Sangkar Perkutut mewah Buatan Kudus, Harganya Capai Rp 30 juta
Perajin sangkar burung, Takim Jesi membersihkan sangkar burung yang dibuatnya. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Kabupaten Kudus dikenal memiliki kerajinan sangkar burung yang memiliki kualitas baik. Salah satu perajinnya, yakni Takim Jesi, warga Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus.

Takim Jesi sudah jadi perajin sangkar burung sejak 2014 lalu. Saat itu, sedang banyak yang menggemari burung perkutut untuk dipelihara.

“Dari situlah muncul ide untuk membuat sangkar burung,” katanya saat ditemui di rumahnya, Sabtu (8/1/2022).

Sejak saat itu, ia hanya fokus membuat sangkar khusus untuk burung perkutut. Terutama, burung perkutut jenis katuranggan yang memiliki harga mahal.\

Baca juga: Tonjolkan Khas Kejawen, Sangkar Anggungan Karya Pria Kudus Ini Limited Edition

Untuk memberikan kesan mewah dan gagah, ia pun membuat sangkar dengan model yang elegan. Beragam model sangkar burung dibuatnya. Untuk harga, bergantung pada tingkat kesulitan motif yang dibuatnya.

Harga terendah, ia patok dikisaran Rp 1 juta. Namun, ada juga yang harganya istimewa sampai Rp 30 juta. Untuk sangkar yang istimewa, proses pembuatannya sekitar tiga bulan sampai dua tahun.

Namun, untuk sangkar-sangkar yang murah, rata-rata dalam sebulan ia mampu menyelesaikan empat sangkar. Bahan pembuat sangkar yang dibuatnya beragam.

“Saya menggunakan bahan sangkar dari berbagai jenis kayu. Seperti kayu Jati, kayu Akar Alas, kayu Stigi, kayu Garu, kayu Dewandaru, kayu Kokka, dan kayu Bambu Wulung,” terangnya.

Saat ini pembeli sangkar burung miliknya berasal dari berbagai daerah. Seperti Kudus, Semarang, Pekalongan, Surabaya, Jakarta, Banten, Tangerang. Ada juga yang berasal dari Sumatera, Kalimantan, dan Bali.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...