Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

OPINI

Mengidentifikasi Trah Sultan Bintoro

Moh Rosyid *)

KERAJAAN Bintoro Demak sebagai kerajaan Islam pertama di Jawa dengan Sultan pertamanya Raden Patah (1478 M ada yang mencatat 1481 bahkan 1500 hingga 1518 M). Paparan selama ini, Raden Patah putra dari Bhre Kertabumi (bergelar Raja Brawijaya V) berpermaisuri Siu Ban Ci.

Pra-menikah dengan Siu Ban Ci (ibu Raden Patah, putri Tan Go Hwat atau Kiai Batong sebagai penasehat Brawijaya V) Brawijaya beristri Ratu Dwarawati, belum dikaruniai keturunan. Kisah ini selanjutnya ada yang perlu pendalaman.

Masa itu, wilayah Bintoro berupa area hutan bernama Glagahwangi, daerah kadipaten di bawah kekuasaan Majapahit. Tahun 1478 M, menantu Raja Brawijaya V, Girindrawandhana mengudeta ayah mertuanya dan berkuasa bergelar Brawijaya VI.

Kekuasaan Girindra juga dikudeta Patih Udara bergelar Brawijaya VII. Dampak perebutan, kondisi kerajaan makin muram. Raden Patah, nama masa kecilnya Pangeran Jimbun didaulat sang gurunya, Sunan Ampel agar berdakwah ke arah barat (dari arah Ampel Denta Surabaya) dan menetap di sebuah wilayah yang kala itu disebut Glagahwangi mendirikan padepokan.

Akhir kekuasaan Majapahit, banyak penguasa lokal saat itu memisahkan diri. Atas dukungan Walisongo, Raden Patah dinobatkan sebagai sultan pada 12 Rabiul Awal/12 Maulid 1425 Saka/dikonversi menjadi 28 Maret 1503 (Hari Jadi Kota Demak) dengan ibu kota Bintoro. Setahun kemudian, didirikanlah Masjid Agung Demak.

Raden Patah memiliki tiga permaisuri, Solekha dari Maloka (putri Sunan Ampel), Randu Singa, dan Putri Dipati Jipang. Putra Raden Fatah yakni Pati Unus, Trenggono, Raden Kanduruwan, Raden Kikin, dan Ratu Nyawa.

Sepeninggal Sultan Patah (1518) kekuasaan diwariskan pada Adipati Unus/Raden Surya/Pangeran Sabrang Lor (1518-1521) selanjutnya dipimpin Sultan Trenggono (1521-1546). Era ini Kesultanan Bintoro pada puncak kejayaan, luas wilayahnya hingga Jawa Bagian Timur dan Barat.

Setelah era Trenggono, Kesultanan Bintoro dipegang Raden Mukmin/Pangeran Hadi Mukmin/Sultan Bintoro IV (1546-1547) pusat pemerintahan dipindah ke Prawoto, bergelar Sultan Prawoto (kini wilayah di Kecamatan Sukolilo, Pati, Jateng).

Tahun 1549, Arya Penangsang, Bupati Jipang Panolan (kini di wilayah Blora) merebut dan membunuh Sunan Prawoto. Hanya saja, Penangsang gagal membunuh Hadiwijaya (yang selanjutnya menjadi raja Pajang pasca-Kesultanan Bintoro) karena dukungan Ratu Kalinyamat (Jepara).

Era pasca-Prawoto ini meredup imbas perebutan kekuasaan yang dimenangkan oleh Sultan Hadiwijaya/Joko Tingkir dan memindahkan Bintoro menjadi Kerajaan Pajang (1568-1586 M). Hingga kini, jejak Kesultanan Bintoro belum terdeteksi.

Joko Tingkir didukung Kerajaan Jipang, Wirasaba, Kediri, Pasuruan, Madiun, Sedayu, Lasem, Tuban, Pati, dan Surabaya. Nama Pajang (sebelum era Hadiwijoyo) disebutkan dalam Kitab Negrakertagama (ditulis tahun 1365) sebagai wilayah kekuasaan Majapahit dengan penguasa adik Hayam Wuruk, Dyah Nertaja bergelar Bharata I Pajang/Bhre Pajang.

Pajang (era pra-Kesultanan Bintoro) cikal bakalnya adalah Kerajaan Kuno, Pengging, penguasanya Anglingdraya di Boyolali. Putri Brawijaya, Retno Ayu Pambayun diculik oleh Menak Daliputih, Raja Blambangan.

Oleh Jaka Sengsara, Retno Ayu diamankannya dan ia mendapat hadiah menjadi Bupati Pengging bergelar Andayaningrat. Tatkala Andaya wafat, terjadi perang antara Majapahit dengan Demak.

Jejak Pajang era Joko Tingkir, kini di perbatasan antara Desa Pajang, Kecamatan Laweyan, Kota Surakarta dengan Desa Makamhaji, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Kini, menyisakan berupa batas-batas berupa pondasi.

Perlu Pendalaman

Paparan di atas sumbernya didominasi dari Kitab Babad Tanah Jawi dan tradisi kisah, perlu penelaahan detail dan fair.

Sultan Patah menantu Sunan Ampel, Sunan merupakan sayyid (keturunan Nabi SAW, etnis Arab). Lazimnya, putri sayyid (bergelar syarifah) menikah hanya dengan se-etnis agar kearabannya terjaga.

Maka benarkah Jin Bun/Raden Patah putranya Brawijaya V? umat Hindu?

Versi lain, Raden Patah putra Sultan Abu Abdullah (Wan Bo/Raja Champa) bin Ali Nurul Alam bin Sayyid Hussein Jumadil Kubra bin Ahmad Syah Jalal bin Abdullah bin Abdul Malik bin Alawi Amal al-Faqih bin Muhammad Syahib Mirbath bin Ali Khali Qasam bin Alawi bin Muhammad bin Alawi bin Syeh Ubaidillah bin Ahmad Muhajirullah bin Isa al-Rumi bin Muhammad Naqib bin Ali Zainal Abidin bin Hussein bin Fatimah binti Nabi Muhammad.

Sultan Abu Abdullah (Wan Bo/Raja Champa) menikahi tiga perempuan (1) Syarifah Zainab binti Sayyid Yusuf asy-Syandani, melahirkan Sayyid Abul Muzhaffar dan Sayyid Babullah, (2) Nyai Rara Santang binti Prabu Siliwangi, melahirkan Sultan Nurullah dan Syarif Hidayatullah, (3) Nyai Condrowati binti Brawijaya V, lahirlah Raden Patah/Raden Fattah/Sultan Alam Akbar al-Fattah.

Dengan demikian, Brawijaya V merupakan kakek kandung Raden Patah dari ibunya, bukan ayah Raden Patah. Maka, Raden Patah dapat menikah dengan putrinya Sunan Ampel yang bergelar syarifah (putri keturunan etnis Arab di Indonesia).

Hanya saja, fakta kini, ada trah syarifah dinikahi trah nonetnis Arab. Mengapa sejarah masa lalu rentan terjadi perbedaan secara prinsipil? Pertama, tidak adanya dukungan sumber tertulis yang fix.

Kedua, didominasi tradisi tutur/cerita (oral tradition) yang rentan terjadi keberpihakan. Ketiga, tidak diklarifikasi dengan pendekatan riset sejarah dan arkeologi yang benar-benar ilmiah. Keempat, Kitab Babad Tanah Jawi mendominasi kisah di atas yang ditulis setelah ratusan tahun pasca-wafatnya Raden Patah dan penulisannya dalam pengawasan kolonial Belanda, digubah oleh L.Van Rijckevorsel tahun 1925.

Kelima, perlunya pendekatan sejarah faktual, arkeologi, dan toponimi (mengidentifikasi jejak sejarah dengan penamaan wilayah) agar tidak menjadi narasi tunggal.

Kampung di Kota Demak berikut ini dijadikan pijakan telaah toponimi yakni Petukangan, Kembangan, Tirtoyudan, Domenggalan, Beguron, Pandean, Sempal Wadak, Tembiring, Setinggil, Pungkuran, Betengan, Krapyak, Kalisusuk, Setinggil, Glagah Wangi, Jogoloyo dan lainnya.

Semoga titik kebenaran trah Bintoro dan jejak kesultanannya makin mendekati sahih. Nuwun. (*)

 

*) Pemerhati Sejarah dari IAIN Kudus

Comments
Loading...