Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Mengenal Tuku Umur dalam Pernikahan Anak di Grobogan

Ilustrasi pernikahan (Pixabay)

MURIANEWS, Grobogan – Kabupaten Grobogan menjadi salah satu wilayah yang memiliki angka perkawinan anak yang tinggi di Jawa Tengah. Bahkan di daerah ini dikenal istilah tuku umur (membeli umur, red) untuk melegalkan pernikahan anak di bawah umur.

Hal tersebut, diungkapkan Lina Kushidayati, dosen IAIN Kudus. Ia juga meneliti mengenai kebiasan tuku umur  di salah satu desa di Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan ini untuk disertasinya di UIN Walisongo Semarang. Sidang disertasi itu telah digelar Kamis (23/12/2021).

Dalam desertasi tersebut, Lina mengungkapkan adanya kebiasaan tuku umur saat terjadi perkawinan anak. Yang mana, hal tersebut dimaklumi oleh masyarakat bahkan lembaga terkait.

Istilah tuku umur ini merujuk pada permohonan dispensasi kawin di Pengadilan Agama. Dispensasi ini biasanya diajukan oleh anak yang akan menikah tapi kurang umur sesuai Undang-Undang Nomor 16/2019 tentang Perkawinan.

”Istilah ini terkait praktik kawin pada masa lalu yang memungkinkan memanipulasi umur karena belum tertibnya administrasi kependudukan. Namun berbeda dengan masa kinim” katanya dalam keterangan tertulis yang diterima MURIANEWS.

Baca: Pernikahan Anak di Bawah Umur di Jateng Melonjak, Paling Banyak di Jepara dan Pati

Biasanya, rendahnya tingkat pendidikan dan penghasilan menjadi salah satu alasan terjadinya perkawinan anak. Karena dianggap sebagai jalan keluar dari kemiskinan dan kesulitan hidup.

”Dalam teori konektivitas patriarkhi, anggota keluarga berhubungan erat dan berupaya saling membantu dan menjaga menjaga nilai keluarga. Kondisi ini, anak tidak merasa tertindas bila kawin usia anak karena menjaga kolektivitas keluarga,” ujarnya.

Dengan hasil penelitian, dari segi agama, pelegalan perkawinan anak sebagian besar dipengaruhi pemahaman secara tekstual hadis tentang kawinnya Aisyah dengan Nabi Muhammad SAW.

Baca: Sunda Dilarang Nikahi Jawa? Ridwan Kamil: Itu Mitos

Tokoh setempat meyakini, tidak masalah jika orang tua menikahkan anaknya di usia pranikah atau di bawah 19 tahun. Karena berpadangan Aisyah menikah dengan Nabi Muhammad SAW di usia  sembilan tahun.

“Pemahaman inilah yang menjadi faktor pendorong pelegalan perkawinan anak. Putusan hakim atas permohonan dispensasi kawin juga karena alasan pemohon (wali anak) mengawinkan untuk mencegah perzinaan,” terangnya.

Selain itu, dalam putusan dispensasi kawin, kesiapan suami memberi nafkah juga menjadi pertimbangan penting hakim. Perkawinan ketika anak perempuan sudah hamil di bawah usia nikah juga jadi pertimbangannya.

”Dari sudut pandang anak, mereka bisa saja tidak merasa tertindas bila kawin usia anak karena menjaga kolektivitas keluarga. Namun, perkawinan anak mampu menegosiasikan posisinya dalam memilih calon suami atau isteri,” paparnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...