Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

OPINI

Kontroversi Imbauan Ucapan Selamat Natal

Moh Rosyid *)

KEPALA Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kakanwil Kemenag) Provinsi Sulawesi Selatan menerbitkan surat Nomor B-9379/Kw.21.1/IIM.00/12/2021 tanggal 14 Desember 2021 tentang imbauan pemasangan spanduk ucapan Natal 2021 dan Tahun Baru 2022. Imbauan ditujukan pada satuan kerja yakni para kepala, Kantor Kemenag kabupaten/Kota, Madrasah Ibtidaiyah (MI), Madrasah Tsanawiyah (MTs), Madrasah Aliyah (MA) dan KUA se-Sulawesi Selatan.

Upaya mengimbau sebagai wujud nyata bahwa Kemenag tidak hanya melayani satu umat agama saja dan menghormati umat agama lain yang merayakan sebagai wujud toleransi yang tidak melanggar aturan.

Hanya saja, ada keinginan sebagian muslim di Sulawesi Selatan untuk mencabut surat edaran, tapi tidak direspon Kanwil Kemenag.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara dalam dokumen Tausiyah Nomor 39/DP-PII/XII/2021 9 Desember 2021 bahwa muslim mengucapkan Natal tak sesuai syariat Islam. Wakil Menag, Zainut Tauhid Sa’adi meresponnya, MUI Pusat belum pernah menerbitkan ketetapan fatwa tentang hukum memberikan tahniah (ucapan selamat) Natal sehingga muslim diberi keleluasaan untuk mengucapkan atau tidak.

Ketua MUI Pusat Bidang Dakwah, K.H Cholil Nafis secara pribadi menyatakan, muslim boleh mengucapkan Natal, utamanya yang memiliki saudara Nasrani atau pejabat karena sekadar penghormatan, bukan mengakui keyakinannya.

Fatwa MUI

Fatwa MUI tahun 1981 tentang Perayaan Natal Bersama tak menjelaskan pelarangan mengucapkan Natal tapi pengharaman bila mengikuti upacara dan ibadahnya. Hal yang disoal mengucapkan/menghadiri perayaan Natal oleh sebagian pihak menafsiri ayat al-Quran surat al-Furqon ayat 72 pada kata “az-zuur” yang ragam tafsir.

Ada yang menafsiri menyaksikan upacara agama kaum musyrik bila melewati tempat upacara maka berlalu dengan sikap baik. Tafsir lainnya, perbuatan yang tidak berfaedah, hanyut dalam kebatilan, tempat maksiyat, tempat kebatilan, acara penuh kepalsuan atau perbuatan haram.

Hanya saja, bila muslim mengakui bahwa Yesus (Isa) sebagai nabi, bukan Tuhan, tidak perlu dipertentangkan bagi yang mengucapkannya.

Hal ini merujuk pada al-Quran surat Maryam ayat 30 “Isa berkata:Aku hamba Tuhan, Tuhan memberiku Injil, dan menjadikanku nabi”, ayat 36 “Isa berkata:Allah Tuhanku dan Tuhanmu, sembahlah Allah”, ayat 35 “tidak patut bagi Allah (Tuhan) mempunyai anak” ayat 33 “semoga sejahtera dilimpahkan pada (Isa) pada hari kelahirannya (Natal), hari wafatnya, dan hari dibangkitkan hidup kembali”.

Anggota DPR RI F-PKS Komisi VIII, Bukhori Yusuf, menganggap perlunya dibedakan antara moderasi beragama (sikap moderat perilaku beragama) dengan moderasi agama (berakibat berubahnya syariat atau keyakinan agama) maka tidak ada kaitan antara orang yang mengucapkan Natal sebagai moderat, sedangkan yang tidak, sebagai radikal.

Dengan demikian, seseorang tidak boleh dipaksa untuk mengucapkan atau tidak mengucapkan. Faktanya, mengucapkan bagi muslim pada umat Kristiani adalah keinginan pribadi, bukan dipaksa mengucapkan atau dipaksa tidak mengucapkan.

Seagama Ragam Perspektif

Ragam pandangan tentang Yesus dalam diri umat Kristiani. Yesus bukan Tuhan diyakini umat Kristen Saksi Yehowa, tidak merayakan Natal sebagai hari lahir Yesus pun diimani Saksi Yehowa dan Kristen Advent Hari Ketujuh. Hal ini sebagai penanda bahwa keyakinan yang mengaku dengan menyebut nama agama yang sama pun (Kristen) ragam keyakinan atas diri Yesus dan Hari Natal.

Kedewasaan menghormati perbedaan sehingga tidak terjadi konflik tertutup atau terbuka perlu ditradisikan dengan berpegang teguh pada kebhinekaan. Kehidupan di tengah keragaman agama atau meyakini ajaran agama yang sama tapi beda tafsir muncul sekte/ denominasi/aliran sebagai fakta.

Ragam denominasi kekristenan antara lain Lutheran, Anglikan, Reformed/Calvinis, dan Anabaptis untuk dijadikan ajang berlomba-lomba menuju kebaikan, tidak mengarah konflik.

Hanya saja, dalam ajaran agama-agama, keragaman aliran rentan terjadi gesekan karena anggapan lebih atas kelompoknya dan menuding kelompok lain salah sebagai tantangan beragama. Pandangan ajaran agamanyalah yang benar hanya keyakinan untuk diri atau intern, tidak untuk menuding pihak lain yang berbeda dan menysalahkannya. Nuwun. (*)

 

*) Pegiat Komunitas Lintas Agama dan Kepercayaan di Pantura Timur (Tali Akrap), dosen IAIN Kudus

Comments
Loading...