Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Prihatin Kasus Asusila, PKB Ajak Orang Tua Cek Rekam Jejak Pesantren

Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bidang Pendidikan dan Pesantren KH M Yusuf Chudlori. (Istimewa)

MURIANEWS, Semarang – Ketua DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Bidang Pendidikan dan Pesantren KH M Yusuf Chudlori mengajak masyarakat untuk melihat rekam jejak sebuah lembaga pendidikan, seperti pesantren saat akan menitipkan atau memondokkan anak mereka.

Imbauan itu menyusul kasus pemerkosaan belasan santri yang dilakukan pengasuh ponpes di Bandung.

“Tolong lihat dulu pesantrennya. Rekam jejaknya harus jelas. Ustaznya ini siapa, kiai ini siapa, lulusan mana? Sanad keilmuan ini menjadi penting, karena dari situlah, ada berkah yang akan memberikan ketenangan kepada santri, dan kita sebagai orang tua,” ujarnya, Senin (13/12/2021).

Baca: Biadab! Guru Perkosa 14 Santri Pesantren Bandung

Menurut pria yang akrab disapa Gus Yusuf ini, kondisi sebuah pesantren dapat dilihat, dan ditanyakan kepada masyarakat sekitar.

“Ini Insya Allah menjadi perhatian masyarakat agar tidak sembarangan menitipkan anak, katanya pesantren, rumah tahfidz, atau boarding school, atau apapun agar lebih berhat-hati,” ujarnya.

Gus Yusuf menambahkan, hari-hari ini semua sedang dikejutkan oleh suatu peristiwa yang membuat banyak pihak prihatin, marah, dan juga campur aduk. Ini setelah mendengar puluhan santri menjadi korban asusila oleh salah satu ustadz di Bandung atau kiai yang betul-betul bejat perilakunya.

Baca: Kepergok, Rampok di Cilacap Malah Coba Perkosa Pemilik Rumah

“Masalah ini sudah ditangani aparat penegak hukum, dan kita berharap pelakunya dihukum seberat beratnya. Dan santri, sebagai korban, mendapatkan penanganan, pascaperistiwa ini, agar bisa kembali normal secara psikis dalam belajar,” jelasnya.

Namun belakangan, juga muncul kasus di Tasikmalaya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) setempat mengungkap ada sembilan santriwati yang menjadi korban aksi bejat guru sekaligus pengelola pesantren. Para korban merupakan siswa tingkat Madrasah Tsanawiyah (MTS/SMP) dan Aliyah (MA/SMA) dengan rentang usia 15-17 tahun

Dia menambahkan, situasi itu juga menjadi koreksi bagi pesantren. “Kita sebagai pengasuh pesantren harus tambah prihatin, untuk selalu mendekatkan diri kepada Allah, menambah riyadoh, mujahadah, agar kita selalu dalam pelindungan Allah,” tutur Gus Yusuf yang juga salah satu Pengasuh Asrama Perguruan Islam Tegalrejo Magelang ini.

Baca: Biadab! Bocah di Tegal Diperkosa Ayah Kandung Sambil Diancam Martil

Sebab, jelasnya, yang namanya nafsu, itu menempel kepada siapa siapapun. Semua manusia punya potensi untuk baik dan potensi untuk buruk, tinggal bagaimana berikhtiar kita untuk menjaganya.

“Namun juga harus ada ikhtiar lahir. Sistem pesantren ayo kita evaluasi bareng-bareng. Sitemnya, keamanannya, agar tidak memberikan kesempatan-kesempatan untuk berbuat yang tidak baik,” tegasnya.

Gus Yusuf juga berharap kepada organisasi pesantren untuk lebih menertibkan anggotanya. Seperti Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) NU, memverifikasi ulang pesantren-pesantren.

Baca: Bocah SMP di Karanganyar Nyaris Diperkosa Kenalan dari Facebook

PKB berharap persoalan asusila ini tidak hanya berhenti di aparat hukum, tetapi juga menjadi momentum agar Kementrian Agama lebih teliti dalam memberikan izin operasional pendirian pesantren.

 

Reporter: Supriyadi
Editor: Supriyadi

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.