Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Satgas Covid19 IDI: Mungkinkah Omicron Jinak?

Satgas Covid19 IDI: Mungkinkan Omicron Jinak?
Ilustrasi Covid19 Omicron. (MURIANEWS)

MURIANEWS, Jakarta – Ketua Satgas Covid19 IDI Prof Zubairi Djoerban menyebut sejak Omicron beredar, angka kematian akibat Covid19 di Afrika Selatan justru turun. Ia pun memperkirakan varian Omicron jinak.

Padahal sebagaimana diketahui, varian baru Covid19 itu ditemukan di Afrika Selatan. Kondisi itu pun membuat tekanan kepada fasilitas kesehatan juga rendah. Pernyataannya itu diungkapkan dalam akun twitternya, Rabu (8/12/2021).

“Menarik. Sejak Omicron beredar, angka kematian Covid-19 di Afsel turun, meski dari level yang rendah. Morbiditasnya pun rendah. Sehingga tekanan kepada faskes juga rendah. Bisa dilihat datanya (sementara), bukan menyimpulkan. Mungkinkah ini pertanda omicron jinak? Mari optimis,” tulisnya seperti dilihat MURIANEWS di Twitter @professorzubairi, Rabu (8/12/2021).

Kemunculan mutasi virus corona terbaru yakni varian Omicron tengah mengkhawatirkan dunia lantaran diduga lebih ganas dari varian lain seperti Delta. Sampai saat ini para ahli termasuk WHO belum dapat memberikan kesimpulan terkait sifat dari varian ini.

Baca juga: IDI Tak Yakin Omicron Bisa Ditangkal Vaksin

Sementara, mantan Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari ikut angkat suara varian Omicron. Menurut Siti Fadilah Supari, Omicron adalah salah satu varian produk dari suatu mutasi covid.

“Omicron itu karena mutasi dari sedikit protein, tetapi strain-nya tetap yang lama. Yang berubah sifatnya adalah yang ada di ujung dari protein itu,” kata dia di saluran Youtube Realita TV, dikutip MURIANEWS, Rabu (8/12/2021).

Siti Fadilah menyebut varian itu tidak berbahaya. Menurutnya, cerita-cerita soal varian Omicron hanya didramatisasi saja.

“Mereka sebut Omicron dramatis sekali, mati lu. No, itu cuma mutasi kecil saja, strain-nya masih tetap yang lama,” katanya.

Menurutnya, strain tiap negara berbeda-beda saat Pandemi. Ia pun menceritakan kasus flu burung beberapa waktu lalu. Di mana, strain Indonesia tentu berbeda dengan strain Thailand, dan Vietnam.

Jadi Ketika vaksin dibuat, orang Indonesia bisa jadi tak akan mempan dengan vaksin yang dibuat dengan strain Vietnam atau Thailand. Sementara untuk covid, kini semua seolah dikaburkan oleh pihak-pihak tertentu. Semua negara dibuat sama saja.

“Makanya saya enggak ngerti, pandemi ini penuh dengan misteri. Nama virusnya saja tak seperti biasanya ketika kita menyebut virus. Padahal ada aturannya,” ujarnya.

“Misal ini covid dari Wuhan. Ya sudah, seluruh dunia menelan itu apa mau dikata,” lanjutnya.

Dia kemudian menyinggung soal tingkat penularan Omicron yang diklaim 500 persen lebih cepat. Kata Siti, ada hal yang penting untuk digarisbawahi sesuai dengan hukum alam sejak lama.

Menurut dia, kalau cepat menular 500 persen lebih tinggi dari covid awal, maka tingkat keganasannya pasti ringan.

“Sifat virus memang begitu, kalau cepat menular seperti flu keganasannya rendah. Tetapi kalau semakin ganas, dia semakin sulit untuk menular,” katanya.

“Makanya kalau kena virus Omicron jangan takut, Inysa Allah tak akan berbahay. Terus Pemerintah juga jangan sampai menaik-naikkan level PPKM, karena dampaknya besar bagi ekonomi kita yang mulai berjalan baik,” jelasnya.

 

Reporter: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...