Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Densus Akui Belum Temukan Bukti Dana Terorisme JI

Densus Akui Belum Temukan Bukti Dana Terorisme JI
Ilustrasi Densus 88 menggeledah sebuah rumah di Deli Serdang, Sumut dan menemukan ratusan kotak amal yang diduga dipakai terduga teroris. (Ahmad Arfah/detikcom)

MURIANEWS, Jakarta – Detasemen Khusus (Densus) 88 Polri mengaku belum punya bukti terkait dana terorisme jaringan Jamaah Islamiyah (JI) yang disebut mencapai Rp 70 miliar setahunnya.

Kepala Bagian Bantuan Operasi (Kabagbanops) Densus 88 Antiteror Polri, Kombes Aswin Siregar mengatakan sebelumnya, dalam pemeriksaan tersangka didapati keterangan adanya keuntungan Rp 70 miliar dalam setahun.

Dana itu dikumpulkan dari yayasan pendana jaringan Jamaah Islamiyah. Namun, keterangan itu belum dapat dibuktikan penyidik lantaran ada mekanisme pendanaan yang terputus.

“Ada yang bilang (keterangan tersangka) bisa sampai Rp70 miliar setahun sebenarnya (keuntungan). Tapi kami tidak punya bukti itu dalam konteks pemeriksaan laporan begitu,” ujarnya dikutip dari CNN Indonesia, Jumat (26/11).

Dijelaskan Aswin, pengumpulan dana yang dilakukan yayasan itu, kebanyakan tak tercatat sebagai laporan. Meski pengelolaan dana itu dilakukan yayasan ataupun badan mal yang memiliki keabsahan hukum.

Baca juga: Densus 88 Amankan Ribuan Kotak Amal ‘Syam Organizer’

Dana yang dikumpulkan yayasan sayap itu kemudian digunakan oleh jaringan JI untuk memenuhi kebutuhan operasional. Mulai dari pembelian senjata, penyembunyian teroris yang menjadi buron oleh kepolisian, hingga kegiatan sehari-hari.

“Kalau yang kita tahu sistem sel terputus atau sistem pengumpulan dana tidak dilaporkan dari bentuk transfer atau lainnya,” jelasnya.

“Dalam satu acara, ada mereka membuat target penerimaan yang dokumennya sudah kami dapat, itu sekitar Rp 28 miliar target dia,” tambahnya.

Sejauh ini, kata Aswin, penyidik telah mengamankan 24 tersangka yang diduga berkaitan dengan pendanaan jaringan itu. Mereka terbagi dalam dua yayasan, yakni Syam Organizer dan Lembaga Amil Zakat Badan Mal Abdurrahman Bin Auf (LAZ BM ABA).

Penyidik, kata dia, masih mengembangkan kelompok-kelompok yang menyandang dana untuk menghidupkan organisasi teroris tersebut selama ini.

Densus menemukan, setidaknya dalam setahun kedua yayasan tersebut dapat meraup keuntungan hampir mencapai Rp30 miliar. Jumlah diperkirakan dapat bertambah lantaran hanya yang tercatat dalam laporan keuangan resmi milik yayasan.

“Pendapatannya hampri sekitar Rp15 miliar per tahun. Jadi itu yang baru masuk dalam hitungan laporan keuangan mereka,” ucap Aswin.

“Di BM ABA juga tidak jauh beda, itu sekitaran Rp14 miliar per tahun,” tambahnya.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: CNN Indonesia

Comments
Loading...