Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Bupati Kudus Akui Kenaikan UMK 2022 Rendah

Bupati Kudus HM Hartopo. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Rencana kenaikan upah minimum kabupaten (UMK) Kudus dianggap cukup rendah, yakni hanya 0,09 persen dibanding tahun sebelumnya. Atau, hanya naik sekitar Rp 2 ribu dari UMK tahun 2021 yang Rp 2.290.995,33.

Sehingga jika usulan UMK Kudus 2022 itu disetujui gubernur Jateng maka nominalnya menjadi Rp 2.293.058,26.

Bupati Kudus HM Hartopo pun menyadari kenaikan tersebut sangat rendah. Hartopo, juga mengatakan jika kenaikan dengan nominal tersebut tidak ada artinya.

“Sebetulnya tidak ngaruh ya, apalagi dalam kondisi seperti ini yang bahan pokoknya serba naik,” kata Hartopo, Jumat (26/11/2021).

Walaupun begitu, pihaknya mengatakan kenaikan yang minim ini juga dilakukan untuk menyesuaikan inflasi yang terjadi. Selain itu, juga berkaitan dengan minat investor untuk menanam modal di Kota Kretek.

Baca: KSPSI Anggap Usulan Kenaikan UMK Kudus Tak Ada Artinya

Ketika UMK Kudus dinilai mereka terlalu tinggi, imbuh dia, maka para investor pun akan pikir-pikir untuk menanamkan modalnya.

“Itu juga harus ikut dipikirkan juga, bagaimana investor ini mau masuk ke Kudus, mereka kan memperhitungkan itu juga, paling tidak seimbang antara gaji buruh dengan nanti bagaimana investor ini jangan sampai berbalik arah,” pungkasnya.

Sementara Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Kudus menilai kenaikan UMK Kudus tak berarti apa-apa. Terlebih, kini masih dalam masa pandemi Covid-19.

“Kenaikan pada tahun ini sangat tidak berarti apa-apa, benar-benar tidak ada artinya itu,” kata Ketua DPC KSPSI Kudus Andreas Hua, Kamis (25/11/2021).

Baca: UMK Kudus Diusulkan Naik Cuma Rp 2000 Perak, Ini Kata Apindo

Di kondisi saat ini, imbuh dia, uang sebesar Rp 2 ribu hanya cukup membeli sejumlah masker saja. Sementara di tiap harinya, seorang pekerja harus mengganti maskernya.

Belum lagi, sambungnya, dengan harga kebutuhan barang pokok yang terus melambung tinggi. Seperti minyak goreng dan bahan pokok lain yang lambat laun juga mengalami peningkatan harga.

“Kasihan para pekerja, selama pandemi upah kami juga berkurang karena adanya sistem sif yang diterapkan perusahaan, ini UMK juga hanya naik sedemikian kecilnya,” lanjut dia.

Oleh karena itulah pihaknya mendorong agar perusahaan-perusahaan di Kudus mau menaikkan gaji melebihi UMK. Namun tetap melihat dari segi pertumbuhan keuangan perusahaan.

”Kami mengusulkan kenaikan sebanyak 5,17 persen dari UMK 2021. Namun jumlah tersebut bukanlah jumlah pakem, disesuaikan dengan kemampuan perusahaan,” pungkasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...