Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

KSPSI Kudus Minta Perusahaan Mau Naikkan UMK 5,17 Persen

KSPSI Kudus. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Dewan Pengupahan Kabupaten Kudus telah menyepakati usulan atas kenaikan Upah Minimum Kabupaten (UMK) Kudus adalah sebesar 0,09 persen. Atau naik Rp 2.062,93 dari UMK tahun 2021 lalu yang sebesar Rp 2.290.995,33.

Atas kenaikan tersebut, upah minimum Kabupaten Kudus pun kini diusulkan di kisaran Rp 2.293.058,26.

Perhitungannya sendiri, berdasarkan formulasi dari Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 36 Tahun 2021 tentang Pengupahan. Dengan data-data yang bersumber dari Kementerian Ketenagakerjaan. Meliputi inflasi hingga pertumbuhan ekonomi.

Walau demikian, Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI) Kabupaten Kudus tetap mendorong perusahaan untuk tidak melaksanakan usulan tersebut. Mereka berharap, perusahaan mau menaikkan UMK hingga 5,17 persen.

Formulasi itu, diambilkan dari pertumbuhan ekonomi dan inflasi dengan skala nasional. Berbeda dari regulasi PP Nomor 36 yang formulasinya diambilkan dari tingkat pertumbuhan ekonomi dan inflasi di skala provinsi.

“Namun kami tetap sadar diri. Karena kondisi pandemi seperti ini, setidaknya kenaikan bisa disesuaikan dengan keuangan perusahaan. Asal tidak di 0,09 persen saja, itu sangat memprihatinkan,” ucap Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) SPSI Kudus Andreas Hua, Kamis (25/11/2021).

Baca: KSPSI Anggap Usulan Kenaikan UMK Kudus Tak Ada Artinya

Untuk mendukung dorongan tersebut pun, pihak KSPSI akan menggelar aksi damai sebagai bentuk keprihatinan mereka.

“Kami akan turun ke jalan, apa adanya saja, namanya bentuk prihatin, berdoa bersama, makan nasi kucing atau apalah secara bersama. Supaya masyarakat dan perusahaan bisa menilai pekerja benar-benar sedang prihatin,” katanya.

Baca: UMK Kudus Diusulkan Naik Cuma Rp 2000 Perak, Ini Kata Apindo

Andreas menambahkan, buruh sebenarnya sudah sengsara semenjak pandemi melanda Indonesia. Upah mereka berkurang karena adanya sistem sif untuk pencegahan penularan Covid-19 di pabrik.

“Kini malah upahnya hanya naik Rp 2 ribu saja, beli masker juga dapat berapa, belum dengan kebutuhan lain yang sudah mulai naik seperti minyak goreng, sama sekali tidak ada artinya kenaikan ini,” tandasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...