Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Mengenal Baju Pengantin Khas Kudus yang Kini Terancam Punah

Toto Kaji pakaian pengantin yang dulunya digunakan di Kudus. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Kudus – Kabupaten Kudus merupakan salah satu daerah yang memiliki segudang budaya. Salah satunya, yakni budaya pakaian adat pengantin, yang dulunya kerap digunakan masyarakat Kota Kretek.

Namun sayang, pakaian-pakaian pengantin khas Kudus ini mulai terancam punah, karena berganti dengan pakaian pengantin yang lebih modern.

Kabid Kebudayaan pada Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kudus Agus Susanto mengatakan, Kabupaten Kudus memiliki pakaian kearifan lokal yang dulunya digunakan untuk prosesi pernikahan pengantin.

Ia menceritakan, awalnya prosesi akad pernikahan pengantin di Kudus menggunakan pakaian dengan akulturasi budaya Jawa dan China.

Di mana pengantin pria menggunakan udeng atau iket kepala, jas, baju koko dan bawahan batik Kudusan.

“Yang paling awal merupakan perpaduan Jawa dan China. Yang perempuan memakai kebaya bordir encim atau icik, bawahan batik, dan kerudung panjang hingga menutupi bagian tangan,” katanya, Rabu (24/11/2021).

Pakaian akad pengantin Kudus (udeng diganti kopyah,red) sebelum masuknya Toto Kaji. (MURIANEWS/Istimewa)

Dulunya, sambung dia, prosesi pernikahan di Kudus hanya sekadar akad. Hingga akhirnya ada budaya arak-arakan dengan pakaian pengantin yang berbeda menggunakan pakaian khas Timur Tengah yang dinamakan Toto Kaji.

“Itu setelah budaya Timur Tengah masuk, sekitar tahun 1.800-an,” ucapnya.

Pakaian pengantin Toto Kaji sendiri merupakan perpaduan antara akulturasi budaya Arab, Eropa, dan China. Di mana mempelai pria menggunakan kain penutup kepala panjang berwarna putih, jubah, dan juga celana putih.

Kemudian, mempelai perempuan menggunakan busana putih panjang dan mahkota penutup kepala seperti budaya China.

“Jika saya lihat dari foto-foto lama pakaian pengantin Toto Kaji sampai tahun 1960-an masih ada,” jelasnya.

Baca: Awal Mula Mitos Pejabat Tak Berani Masuk Gapura Menara Kudus

Hanya saja seiring berjalannya waktu budaya pakaian pengantin di Kudus semakin lama semakin hilang.

Masyarakat kemudian banyak yang memilih pakaian pengantin khas Solo atau Yogyakarta dengan mempelai putri menggunakan sanggul dan sejumlah pentul di kepala.

Bahkan hingga kini generasi muda banyak yang menggunakan pakaian pernikahan dengan berbagai macam model yang dirasa lebih modern dan praktis.

Baca: Baju Adat Kudus Terancam Punah, Ini Solusi Penanganannya

Untuk itu, beberapa waktu lalu pihaknya menyimulasikan kembali budaya pengantin Kudusan.

Rencananya juga, ke depan simulasi prosesi pernikahan dengan menggunakan pakaian adat Kudusan juga akan kembali digelar di Pendapa Kudus.

“Simulasi kami gelar lagi agar masyarakat muda bisa menggunakannya kembali. Dan otomatis akan meningkatkan perekonomian warga sekitar seperti bordir icik hingga batik,” pungkasnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...