Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kopi Ekselsa Blora yang Khas Di Kebun Pranoto

Kopi Excelsa khas Kabupaten Blora
Pranoto (72), warga Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora memetik kopi ekselsa di kebun miliknya. (MURIANEWS/Kontributor Blora)

MURIANEWS, Blora – Kabupaten Blora memiliki kopi yang khas. Kopi itu berjenis ekselsa dan berhasil dikembangkan di Kabupaten Blora. Salah satunya ditanam di Ngalwungan.

Salah satu petani kopi adalah Pranoto (72), warga Desa Tunjungan, Kecamatan Tunjungan, Kabupaten Blora. Dia menanam kopi di lahannya seluas seperempat hektare.

Di tempat Pranoto, banyak warga memanfaatkan lahannya untuk ditanami durian. Namun, Pronoto menambahnya dengan tanaman kopi di sela-sela tegakan pohon durian.

Di tanam di ketinggian sekitar 800 mdpl, memiliki cita rasa yang khas. Setidaknya ada 70 tanaman kopi yang tumbuh subur di bawah tegakan pohon durian.

Di tangan tuanya, ia mampu menanam pohon kopi dan sudah berkali-kali panen. Semua pohon kopi ini dia rawat sendiri. Sembari memetik biji kopi, Pranoto menceritakan proses pengolahan kopi itu hingga di tangan pembelinya pada MURIANEWS.

Pranoto menceritakan selama bertanam pohon kopi dia mengaku merawat seorang diri, dari proses tanam panen hingga siap jual, sehingga harga tak sembarangan.

Baca juga: Bercita Rasa Khas, Kopi Muria Layak Dipromosikan

Karena jenis kopi excelsa ini cukup unik karena dinilai memiliki rasa yang khas. Maka untuk biji kopi kering siap goreng bisa dijual dengan harga mahal.

“Kalau biji kopi yang sudah terkupas, kering dan siap digoreng dan kemudian digiling itu satu kilogramnya Rp 50 ribu,” tuturnya

Pranono mulai menanam kopi sejak pulang dari rantauan di Lampung. Selama di perantauan pada 2005 lalu, ia mengaku menjadi penikmat kopi jenis ekselsa itu.

Saat itu dirinya tidak tahu jenis kopi apa, tapi banginya memiliki cita rasa yang khas. Maka saat dirinya hendak pulang ke Blora di 2006, ia meminta bibit kopi ini dari saudaranya.

Ratusan bibit tersebut kemudian langsung ditanam di lahan miliknya setelah pulang di Blora, di Nglawungan pada 2007. Dari ratusan bibit yang ditanam ternyata tidak semua tumbuh. Hanya beberapa.

Baca juga: Kopi Robusta Khas Jolong Dikembangkan Jadi “Kopi Luwak”

“Tinggal 70an pohon yang hidup sampai sekarang ini,” ujar bapak tiga anak ini.

Pohon kopi ini butuh waktu empat tahun untuk bisa berbuah. Setelah memasuki panen, dia masih hanya memanfaatkan kopi itu untuk dinikmati sendiri.

“Ternyata kok banyak dan tidak habis, jadi ya saya bagi-bagikan ke tetangga,” ujarnya.

Awal mula menanam pohon kopi baginya untuk hobinya, sehingga dirinya tidak ada niat menjual. Tapi akhirnya setelah itu ada yang datang ke kebun kopinya dan meminta agar menyuplai kopi di tempat orang tersebut.

Jadi sejak saat itu kopinya mulai dijual. Sampai hari ini dirinya bekerja sama dengan salah satu cafe kopi. Karena kopi yang memiliki ciri khas itulah kemudian banyak peminatnya.

Di masa pendemi ini, Pranoto tetap bertani. Meski tak mengganggu kegiatannya bertani, pandemi cukup membuat penjualannya menurun.

Adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) menjadi penyebab berkurangnya penjualan itu. Namun tak begitu banyak.

“Ya ikut terdampak tapi ya tetap bertani, kalau penurunan penjualan tetap ada hanya saja tidak begitu banyak,” ucapnya.

Baginya, pandemi bukan jadi penghalang untuknya tetap bekerja. Ia ingin agar kopi excelsa bisa terus dikembangkan oleh generasi muda.

“Meski pandemi ini ya tetap saya rawat, saya ingin nantinya generasi muda juga bisa terus mengembangkan kopi Excelsa ini sehingga nanti bisa dikembangkan di wilayah lain,” harapnya

Sejak awal dirinya menilai di Kabupaten Blora memiliki potensi kopi. Bahkan menurutnya bukan hanya di Nglawungan, daerah lain juga bisa.

“Di blora ini saya yakin cocok untuk ditanami kopi oleh karena itu saya terus mendorong pemuda untuk bisa mengembangkannya,” pungkasnya.

Kontributor Blora
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...