Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Harga PCR Bisa Rp 10.000, Asalkan…

Ilustrasi Harga PCR
Ilustrasi: Warga melihat tarif rapid test antigen dan tes PCR di RSUD RA Kartini Jepara yang belum mengalami penurunan. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jakarta – Harga PCR di Indonesia menjadi gaduh. Bahkan sampai turun empat kali. Mulai dari Rp 2,5 juta, ke Rp 900.000, Rp 500.000, dan terakhir Rp 300.000.

Ternyata harga PCR ada kemungkinan jadi Rp 10.000 saja. Itu diungkapkan Aiman Witjaksono, Host & Produser Eksekutif Program AIMAN KompasTV dalam tulisannya.

“Saya menelusuri, ternyata dimungkinkan harganya hanya Rp 10.000. Pertanyaannya tentu saja kenapa harga di awal begitu mahal? Lalu, kenapa baru turun sekarang?” tulisnya dikutip dari Kompas, Selasa (16/11/2021).

Kemungkinan itu didapatkannya saat Ia menemui Sekjen Gabungan Pengusaha Alat Kesehatan dan Laboratorium (Gakeslab), Randy Teguh. Dalam pertemuan itu, Randy mengatakan harga PCR bisa rendah sampai Rp 10.000 saja.

Baca juga: Tepis Ada Mafia, Harga PCR Turun Karena…

Randy menyebut, harga PCR tidak terkait langsung dengan peralatan untuk tes PCR, seperti baju hazmat, batang pengambil sampel, dan alat lainnya. Namun, harga PCR itu berkaitan dengan mesin dan reagen.

Randy mengibaratkan, mesin dan reagen itu seperti printer dan tintanya. Tidak bisa digunakan salah satunya.

Harga mesin PCR itu mencapai ratusan juta rupiah dan bisa digunakan dalam jangka panjang. Sementara, harga reagen bervariasi, dari belasan hingga ratusan ribu rupiah di awal pandemi. Sebab, harga reagen saat itu tinggi karena tingginya permintaan namun masih terbatasnya produsen.

“Lalu, berapa harga tes PCR sebenarnya?” kata Aiman.

“Rp 10.000 pun bisa,” jawab Randy.

“Lho, kenapa bisa semurah itu?” tanya Aiman lagi.

“Jika dilakukan kerja sama operasi, alias skema bisnis tertentu,” terang Randy.

Baca juga: Berani Mainkan Harga PCR, Ini Ancamannya

Randy menyebut, kunci penurunan harga itu ada di efektivitas penggunaan mesin PCR. Jika mesin digunakan sendiri dan waktu operasionalnya terbatas, tentu pebisnis akan menaikkan harga untuk mengejar modal kembali.

Namun, jika mesin bisa digunakan bersama dan waktu operasi bisa maksimal maka harga PCR bisa ditekan. Oleh karena itu, perlu dicari model bisnis kolaboratif yang bisa memaksimalkan mesin-mesin PCR yang ada. PCR ini memang bisnis luar biasa besar.

ICW dan Koalisi Masyarakat Sipil menghitung keuntungan dari bisnis PCR selama sekitar setahun terakhir pandemi mencapai lebih dari Rp 10 triliun. Meskipun tak bisa dilepaskan dari aspek bisnis, PCR punya dimensi kepentingan publik dan kepentingan nasional. Oleh karena itu, harga paling murah perlu diupayakan.

Sebelumnya, Menko Marves Luhut Binsar Pandjaitan dan Menteri BUMN Erick Thohir dituding terlibat dalam bisnis PCR. Keduanya dikaitkan dengan PT Genomik Solidaritas Indonesia (GSI).

Luhut dan Erick Thohir juga dilaporkan ke KPK gegara masalah itu. Baik Luhut dan Erick Thohir juga telah membantah telah meraup untung di bisnis PCR itu.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: Kompas

Comments
Loading...