Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Soto Kerbau Kudus, Kuliner Sarat Akulturasi Budaya

Soto Kerbau. (IG @kuponpergikuliner)

MURIANEWS, Kudus- Mengunjungi Kudus tak lengkap jika tidak mengicipi kuliner khas dari Kota Kretek ini. Salah satu kuliner khas dari Kudus adalah soto kerbau yang kental akan nilai sejarah dan akulturasi budaya.

Kuliner khas Kudus ini biasa disajikan dalam semangkuk nasi soto pada umumnya. Sesuai namanya, soto kerbau berisi irisan daging kerbau, mi putih, tauge, butiran kacang kedelai, kol, taburan daun seledri dan bawang goreng serta disiram kuah kaldu kerbau yang hangat.

Kuah kaldu kerbau ini berisi aneka bumbu dan rempah khas yang dijamin menggoyang lidah para penikmatnya. Soto kerbau akan lebih nikmat saat dipadukan dengan kecap, jeruk limau dan sambal.

Dilansir dari Wikipedia, kuliner ini menjadi gambaran akulturasi budaya yang ada di Kudus. Perpaduan budaya antara Hindu, Jawa dan Tionghoa yang bercampur dalam semangkuk soto memberikan perpaduan rasa yang unik.

Perpaduan ini dimulai saat Sunan Kudus yang menyebarkan agama Islam di Kudus, meminta pengikutnya untuk tetap menghormati pemeluk agama Hindu.

Baca: Segarnya Soto Kalkun di Kudus Ini Hanya Rp 10 Ribu Saja

Dengan demikian sapi yang dianggap suci oleh penganut agama Hindu dilarang disembelih oleh Sunan Kudus, dan menggantinya dengan kerbau.

Kendati pengaruh Hindu telah memudar, tradisi menghormati agama Hindu dengan tidak menyembelih sapi masih terjaga hingga saat ini. Alasan ini yang menjadikan soto Kudus menggunakan daging kerbau menggantikan daging sapi

Sementara kuah merepresentasikan budaya Jawa dalam semangkuk soto kerbau. Kuahnya yang bening dengan sedikit minyak dan rasa asam Jawa dengan penggunaan kemiri dan jeruk limau menambah cita rasa yang khas.

Baca: Lezatnya Soto Gentong di Kudus Ini Belum Tentu Bisa Kamu Temukan di Daerah Lain

Cara penyajian soto kerbau pun dapat dipilih. Nasi langsung dicampur dengan kuahnya atau terpisah sesuai selera masing-masing.

Sementara unsur Tionghoa terlihat pada serbuk koya dan bawang putih goreng yang dijadikan toping. Serbuk koya sendiri merupakan warisan budaya kuliner Tionghoa yang terbuat dari santan kelapa yang dikeringkan untuk menambah rasa dan tekstur.

Perpaduan budaya ini yang mendasari lahirnya soto kerbau yang terkenal kenikmatannya. Hal itu membuktikan bahwa saling menghargai dan hidup selaras meski berbeda latar belakang budaya dapat menghasilkan sesuatu yang indah.

 

Penulis: Loeby Galih Witantra
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...