Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

OPINI

Perilaku Ta’awun dalam Bekerja

Fahrudin Hasbi *)

TEKNOLOGI terus berkembang pesat. Dunia industri sudah memasuki masa revolusi industry 4.0 di mana menghadirkan banyak teknologi baru. Internet, big data, artificial intelligence terus berkembang pesat.

Bahkan di Jepang sudah menggagas konsep Society 5.0 yaitu konsep dengan menggunakan teknologi untuk menyelasaikan masalah sosial dan ekonomi.

Perkembangan teknologi semakin membuka banyak peluang untuk mengembangkan dunia bisnis. Memang hal ini memberi dampak yang positif yang luar biasa dalam kehidupan kita sebagai manusia.

Semua hal mejadi lebih mudah dengan adanya perkembangan teknologi ini. Apalagi di era internet yang sudah memasuki era 5G. Informasi semakin cepat dan mudah didapat.

Hadirnya revolusi industry 4.0 sedikit banyak mempengaruhi sektor ketenagakerjaan. Angkatan kerja mempunyai banyak pilihan dalam berkarya atau berkarir. Terutama untuk generasi angkatan kerja milenial, banyak di antara mereka memilih untuk berwiraswasta dan mencoba hal baru seiring dengan mudahnya informasi dan bisnis yang bisa dijalani dengan hadirnya teknologi dan internet.

Pekerja di Industri Padat Karya

Di sisi lain dunia industri di beberapa sektor masih memerlukan tenaga kerja yang tinggi, terutama di bidang industri padat karya. Hal ini menjadikan problem tersendiri di dalam memenuhi kebutuhan tenaga kerja.

Padahal industri padat karya ini sangat bergantung pada kelengkapan karyawan yang dibutuhkan dan skill karyawan dalam menunjang produktivitasnya. Akan sangat penting di sini untuk tetap bisa mempertahankan sumber daya manusia yang sudah ada di dalam perusahaan.

Ke luar masuknya karyawan akan menyebabkan stabilitas perusahaan akan terganggu. Menurut beberapa peneilitian bahkan menunjukkan bahwa tingginya angka ke luar masuk karyawan ini berdampak pada budaya perusahaan yang tidak sehat dan semangat kerja menjadi rendah.

Beberapa hal yang menjadi penyebabnya di antaranya adalah: kurangnya keterikatan kerja antara perusahaan dan karyawan, kurangnya kepuasan dalam pekerjaan, lemahnya komitmen perusahaan, kejenuhan dalam pekerjaan karena kurangnya inovasi dan lain sebagainya.

Selain faktor internal, faktor eksternal juga berpengaruh banyak dalam hal ini. Ketersediaannya lowongan pekerjaan di luar dan banyaknya persaingan dalam memperoleh karyawan potensial menjadikan salah satu penyebabnya.

Perilaku OCB

Hal ini tentunya perlu kita sikapi supaya kestabilan perusahaan tetap terjaga. Para ahli telah banyak meneliti bagaimana mengatasi permasalahan ini yang terus berkembang di setiap zamannya.

Beberapa di antaranya adalah yang diperkenalkan dengan menggunakan konsep barat yaitu dengan memperhatikan perilaku OCB (Organizational Citizen Behaviour), di mana OCB ini adalah menolong sesama (dalam pekerjaan) yang dilakukan dengan sukarela secara formal di luar tanggung jawab mereka tanpa mengharapkan imbalan.

Mereka melakukannya ditandai dengan rela berkorban untuk kebahagiaan orang lain. Dengan memperhatikan indikator-indikator dari OCB ini diharapkan dapat menjadi alat pantau terhadap niatan untuk berpindah dari diri seorang karyawan.

Sayangnya di beberapa penelitian indikator OCB ini kurang begitu dapat mengungkap fenomena yang sebenarnya di lapangan mengenai adanya niat berpindah dari seorang karyawan.

Perilaku OCB dilihat mampu sebagai indikator keterikatan karyawan terhadap perusahaan, kemudian juga dapat dilihat ke dalaman indentitas perusahaan yang melekat dalam diri seorang karyawan.

Meski demikian dalam konsep OCB barat ini ada beberapa titik lemah. Kebanyakan mencari kepuasan pribadi mampu membantu orang lain, sehingga terkadang akan menimbulkan kekecewaan ketika terjadi konflik atau tidak ada timbal balik di dalamnya. Sehingga ini dapat memicu terjadinya niatan berpindah dari diri seorang karyawan.

Ta’awun dalam Pekerjaan

Selain OCB dengan konsep barat, Islam sudah mengajarkan untuk saling tolong menolong dalam kebaikan. Hal ini dalam agama Islam disebut dengan Ta’awun. Sejalan dengan ajaran agama Islam dalam Alquran disebutkan “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” Qs Ad-Dhariyat:56.

Ini mengartikan segala bentuk kegiatan manusia di muka bumi hanyalah untuk beribadah kepada Allah, termasuk pula dalam bekerja. Sehingga seorang muslim akan menerapkan nilai-nilai Islam dalam segala aspek kehidupan termasuk dalam kehidupan berorganisasi atau perusahaan.

Penerapan perilaku ta’awun di dalam perusahaan ini dilihat mampu menurunkan niatan berpindah dari karyawan. Perilaku ta’awun mirip dengan konsep OCB barat, bedanya dalam ta’awun sikap saling membantu didasari dan dilandasi dengan nilai-nilai ibadah dan spiritual, sehingga terkandung nilai ikhlas di dalamnya karena didasarkan membantu atau menolong karena Allah.

Penelitian menyebutkan ”seseorang yang memiliki religiusitas yang tinggi cenderung melampaui tanggung jawabnya dan komitment yang kuat terhadap tujuan organisasi atau perusahaan”.

Perilaku ta’awun ini diharapkan mampu memberikan jalan ke luar dalam mempertahankan karyawan sebagai aset penting perusahaan. Semakin tinggi spiritualitas seseorang maka akan semakin meningkatkan kerja sama tim, menjadi pribadi yang lebih baik, adil, lebih memperhatikan kebutuhan orang lain, dan membangun kepercayaan dalam organisasi, memiliki kecenderungan untuk melayani orang lain dan lebih sensitif dengan kebutuhan kinerja sosial perusahaan.

Dengan kuatnya perilaku ta’awun dalam perusahaan diharapkan terciptanya kedamaian, ketentraman, kenyamanan karena semua dilandaskan dengan niat beribadah kepada Allah dan yang paling penting adalah mencari keberkahan dari Allah dalam bekerja dan dalam berkehidupan di dunia dan akhirat. (*)

 

*) Mahasiswa Pasca Sarjana Universitas Islam Sultan Agung Semarang

Comments
Loading...