Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

INFO JABAR

Keluarga di Kabupaten Bandung Diusir Warga, Faktanya Bikin Miris

Keluarga di Kabupaten Bandung Diusir Warga, Faktanya Bikin Miris
Rumah Keluarga di Kabupaten Bandung Diusir Warga. (Detikcom/Muhammad Iqbal)

MURIANEWS, Kabupaten Bandung – Heboh satu keluarga di Kabupaten Bandung diusir warga kampung. Sejumlah fakta miris terungkap usai insiden pengusiran itu.

Peristiwa pengusiran itu terjadi di Kecamatan Cilengkrang, Kabupaten Bandung, Selasa (9/11/2021). Pengusiran itu dipicu karena kekesalan warga setempat terhadap keluarga tersebut.

Ternyata, ayah dari keluarga yang diusir itu telah menghamili anak sendiri. Fakta itu diungkapkan Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P2KBP3A) Kabupaten Bandung.

Mengutip Detikcom, Jumat (12/11/2021), Kasi Pencegahan dan Pelayanan Bidang Pemberdayaan Perempuan DP2KBP3A Kabupaten Bandung, Yadi Setiadi mengungkapkan fakta itu terkuak setelah Satgas Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) mendapat data itu dari penelusuran yang dilakukan.

Baca juga: Tiga Warga Bandung Tiga Hari Tunggui Pasien di RSK Tayu Pati, Padahal Sudah Tutup Puluhan Tahun

Diduga, S (48), kepala keluarga yang terusir itu mencabuli anak kandung sendiri. Pahitnya, peristiwa itu diduga dilakukan di depan istri keduanya di rumah itu.

“Jadi anaknya ini tinggal di Jakarta bersama pamannya, dia pulang pergi ke bapak kandungnya di Cilengkrang. Kemudian terjadi pencabulan di depan ibu tirinya, dan si ibu tirinya itu membiarkan,” ujar Yadi.

Tak hanya dihamili, anak itu juga dianiaya. Ketua RW setempat, Ade Rohmadin (52), mengatakan anak itu sudah hamil dua bulan. “Anak tersebut bercerita bahwa dia dipukul dan dihamili. Korban ngaku kalau pelakunya bapaknya sendiri,” ucap Ade.

Baca juga: Lagi Isolasi Mandiri, Seorang Nakes di Ngawi Diusir Warga

Kabar tak sedap itu pun langsung tercium luas di masyarakat. Kepolisian setempat pun membawa keluarga itu untuk dimintai keterangan. Dari Polsek Cileunyi, kasus kemudian dilimpahkan ke Unit PPA Satreskrim Polresta Bandung. Namun, kasus tersebut tidak naik ke penyidikan karena korban enggan membuat laporan.

“Dari polres bilang tidak bisa dilanjutkan karena tidak ada laporan ke polisi,” ucap Ketua RW setempat, Ade Rohmadin (52).

Karena kasus tidak selesai di ranah hukum, S masih bebas berkeliaran. Sejumlah warga pun gerah dan menuntut agar S pergi dari kampunug tersebut. Sebab, kelakuan S dinilai tak lazim dan memalukan nama kampung.

Pengurus rukun warga setempat dan keluarga S pun berunding. S diminta agar meninggalkan kampung tersebut. Sedangkan istri kedua S dan anak lelakinya diperbolehkan tetap tinggal hingga rumah tersebut terjual.

“Kami coba koordinasi dengan keluarga di Banten. Awalnya tidak mau pulang, akhirnya korban dijemput sama pihak keluarga yang di Banten,” tutur Ketua RW setempat, Ade Rohmadin (52)

Setelah beberapa bulan berlalu, S rupanya kepergok mengunjungi rumahnya. Warga pun segera melapor ke pengurus rukun warga setempat.

Karena kesal, ratusan warga pun menggeruduk rumah milik S. Mereka dipaksa segara meninggalkan kampung tersebut karena sudah melanggar perjanjian.

Tanpa perlawanan, S, anak lelaki dan istri keduanya terpaksa meninggalkan rumah. “Warga geram sekaligus malu karena sudah mencemari nama kampung. Selain itu, ini juga bukan masalah biasa, ini masalah besar,” ujar Ketua RW setempat, Ade Rohmadin (52).

S dan keluarga diantarkan menggunakan mobil milik desa setempat. Mereka meminta agar diturunkan di Jalan Raya Soekarno-Hatta dan akan pergi ke Sukabumi.

Pengusiran keluarga S mendapat sorotan pula karena diduga melanggar hak asasi manusia. Meski begitu, kasus dugaan S menghamili anaknya pun menjadi sorotan.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia Daerah (KPAID) Kabupaten Bandung pun meminta agar kepolisian segera mengusut kasus tersebut. Pasalnya, dalam kasus ini yang dirugikan adalah korban atau anak yang diduga dihamili S.

“Kami mengimbau kepada pihak-pihak terkait, khususnya memang yang ditangani Unit PPA Polresta Bandung, ini harus serius, tanggap dan seadil-adilnya,” ucap Ketua KPAID Kabupaten Bandung Ade Irfan Al Anshory.

“Pelaku harus dihukum seberat beratnya, apalagi ini hukumannya 15 tahun, harus seberat beratnya. Supaya memang jera, jangan sampai kejadian ini terulang kembali,” ujar Ade menambahkan.

 

Penulis: Zulkifli FahmI
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: Detikcom

Comments
Loading...