Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Pocut Meurah Intan, Singa Betina dari Aceh yang Diasingkan ke Blora

Pocut Meurah Intan. (pidiekab.go.id)

MURIANEWS, Blora – Nama Pocut Meurah Intan tak begitu dikenal di antara barisan para pahlawan di Indonesia. Namun, keberaniannya melawan penjajah membuat serdadu Belanda menjulukinya sebagai Heldhafting (Yang Gagah Berani).

Perlawanannya melawan penjajah selama akhir abad 19 hingga awal abad 20 membuatnya juga mendapat judulkan sebagai Singa Betina dari Aceh.

Kegigihannya melawan penjajahan pun membuatnya harus diasingkan ke Blora dan hingga mengembuskan nafas terakhir di wilayah tertimur Jawa Tengah itu pada 19 September 1937.

Jenazahnya pun dimakamkan di pemakaman umum Desa Tegal Sari, Kabupaten Blora. Bukan di tempat makam pahlan.

Di pemakaman umum ini makam Pocut Meurah Intan terlihat paling mencolok, karena bentuk dan batu nisannya berbeda, dengan tulisan Arab.

Gubernur Ganjar Pranowo berziarah di makam Pocut Meurah Intan. (MURIANEWS/Kontributor Blora)

Pocut Meurah Intan merupakan putri keturunan keluarga bangsawan dari Kesultanan Aceh. Ayahnya, Keujruen Biheue, adalah salah seorang uleebalang atau kepala pemerintahan dari kerajaan tersebut.

Dikutip dari Wikipedia, dalam catatan Belanda, Pocut Meurah Intan termasuk tokoh dari kalangan kesultanan Aceh yang paling anti terhadap Belanda.

Melawan Belanda

Hal ini di sebutkan dalam laporan colonial “Kolonial Verslag tahun 1905”, bahwa hingga awal tahun 1904, satu-satunya tokoh dari kalangan kesultanan Aceh yang belum menyerah dan tetap bersikap anti terhadap Belanda adalan Pocut Meurah Intan.

Semangat yang teguh anti Belanda itulah yang kemudian diwariskannya pada putera-puteranya, sehingga merekapun ikut terlibat dalam kancah peperangan bersama-sama ibunya dan pejuang-pejuang Aceh lainnya.

Setelah berpisah dengan suaminya yang telah menyerah kepada Belanda Pocut Meurah Intan mengajak putera-puteranya untuk tetap berperang.

Baca: Ganjar Dukung Pocut Meurah Intan Jadi Pahlawan Nasional

Ketika pasukan Marsose menjelajahi wilayah XII mukim Pidie dan sekitarnya, Pocut Meurah Intan melakukan perlawanan secara bergerilya.

Dua di antara ketiga orang puteranya, Tuanku Muhammad Batee dan Tuanku Nurdin, menjadi terkenal sebagai pemimpin utama dalam berbagai gerakan perlawanan terhadap Belanda. Mereka menjadi bagian dari orang-orang buronan dalam catatan pasukan Marsose.

Dibuang ke Blora

Peningkatan intensitas patroli Belanda juga menyebabkan tertangkapnya Pocut Meurah Intan dan kedua puteranya oleh pasukan Marsose yang bermarkas di Padang Tiji.

Namun, sebelum tertangkap ia masih sempat melakukan perlawanan yang membuat Belanda tercenang.

Saat Pocut mengalami luka parah, dua tetakan di kepala, dua di bahu, satu urat keningnya putus, terbaring di tanah penuh dengan darah dan lumpur laksana setumpuk daging yang dicincang-cincang ia tak menyerah.

Pada 6 Mei 1905 melalyi Surat Keputusan Pemerintah Hindia Belanda Nomor 24, Pocut Murah Intan pun dibuang di Blora. Ia diasingkan bersama saudaranya Tuanku Budiman dan juga seorang keluarga sultan yang bernama Tuanku Ibrahim.

Ia menghabiskan sisa hidupnya di tempat ini. Dikutip dari website resmi Pemkab Blora, pada tahun 2001 Pemerintah Provinsi Aceh pernah berencana memindahkan jasad Pocut ke Aceh.

Namun rencana itu batal, karena berdasarkan wasiat Pocut kepada RM Ngabehi Dono Muhammad, seorang sahabatnya, Pocut lebih suka dimakamkan di Blora.

Kini makam Pocut hendak diperbaiki oleh bantuan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo. Ganjar juga mendukung upaya untuk mengusulkan Pocut mendapat gelar pahlawan nasional.

“Kalau diizinkan, kita akan perbaiki (makam). Beliau ini pejuang hebat. Dari keluarga Kesultanan dan melawan Belanda sampai dikejar-kejar dan diasingkan ke sini,” kata Ganjar saat berziarah di makam Pocut, Selasa (9/11/2021).

 

Penulis: Ali Muntoha
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...