Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Asal Usul Dandangan, Tradisi Warisan Walisanga

Asal Usul Dandangan, Tradisi Warisan Walisongo
Ilustrasi. Lapak pedagang di tradisi Dandangan Kudus. (MURIANEWS)

MURIANEWS, Kudus – Kabupaten Kudus punya tradisi unik untuk menyambut datangnya Ramadan. Tradisi unik itu bernama Dandangan.

Dandangan biasanya digelar selama sepekan sebelum datangnya Ramadan. Budaya itu mirip sebuah pekan raya, di mana banyak pedagang berdatang untuk menggelar lapak di sana. Tak hanya dari Kudus saja, mereka juga datang dari beberapa daerah.

Pedagang itu mencoba mengais rezeki di sana selama sepekan tradisi Dandangan itu. Di area tertentu juga terdapat beragam wahana permainan.

Baca juga: Dandangan Kudus Resmi jadi Warisan Budaya Tak Benda

Penyerbaran Agama Islam

Tradisi Dandangan ini digelar di sepanjang Jalan Sunan Kudus. Dandangan, sudah ada sejak awal penyebaran agama Islam oleh walisanga Sunan Kudus, di Kabupaten Kudus.

Dahulu, para santri dan warga sekitar Kudus menunggu datangnya bulan suci Ramadan di Masjid Alaqsa Menara Kudus. Kedatangannya untuk mendengarkan suara beduk sebagai pengumuman masuknya bulan Ramadan.

“Santri dan warga sekitar Kudus, menunggu ditabuhnya bedug yang berbunyi ‘dang dang dang’,  Sebagai penanda datangnya bulan Ramadan. Suara bedug itulah, yang kemudian menjadi nama Dandangan,” kata salah satu pemerhati budaya di Kudus, Joko, Rabu (3/11/2021).

Denny Nurhakim, Humas Menara Kudus kepada MURIANEWS, pernah berkata tradisi pemukulan beduk itu sudah ada sejak 965 H. “Tradisi pemukulan beduk itu sudah ada sejak tahun 965 H, sampai sekarang. Itu sebagai tanda awal bulan Ramadan dengan memukul beduk,” jelasnya.

Pukulan pertama dilakukan untuk mengumpulkan masyarakat dan santri. Setelah itu diikuti pukulan kedua setelah sholat Isya’ untuk membuka awal bulan puasa.

Dandangan tetap dilestarikan hingga saat ini. Dalam berjalannya waktu, dandangan tidak hanya sekadar menabuh beduk sebagai penanda awal bulan Ramadhan.

Baca juga: Dandangan Kudus Resmi jadi Warisan Budaya Tak Benda

Jadi Warisan Budaya

Warisan Sunan Kudus itu saat ini lebih meriah dengan adanya kirab dan festival budaya yang rutin diselenggarakan menjelang bulan Ramadhan. Kemeriahan Dandangan semakin terasa dengan adanya pelaku usaha yang menjajakan berbagai produk.

Adanya dandangan tidak hanya tunggu oleh masyarakat Kudus saja. Magnet kemeriahan Dandangan turut menyedot masyarakat dari luar kota untuk ikut merasakan kemeriahan menyambut datangnya bulan Ramadan.

Namun kemeriahan Dandangan terusik dengan adanya pandemi Covid19. Dandangan yang biasa ramai diisi oleh pedagang dan adanya kirab serta festival budaya, ditiadakan untuk menghindari penyebaran Covid19.

Pemkab Kudus berencana kembali mengizinkan Dandangan saat wilayah Kudus sudah menjadi zona hijau. “Selagi masih zona kuning dan oranye di Kudus ini mungkin kami tidak akan mengagendakan itu (Dandangan). Jadi harus full hijau, nanti akan kami koordinasikan dengan Dinas Perdagangan,” ujar Bupati Kudus, HM Hartopo, Rabu (3/3/2021).

Meski dari 2020 tak dapat menggelar Dandangan karena Covid19, tradisi warisan Sunan Kudus ini ditetapkan sebagai salah satu Warisan Budaya Tak Benda. Penetapan itu dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) pada 29 Oktober 2021.

 

Penulis: Loeby Galih Witantra
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...