Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Bukan dari Indonesia, Ini Asal Usul Kue Putu

Kue putu. (Wikimedia)

MURIANEWS, Kudus – Kue putu, atau orang Jawa umum menyebut Puthu Bumbung adalah jajan tradisional yang terkenal di Indonesia. Kue berbahan tepung beras dengan gula merah di dalamnya yang lumer membuat kue ini banyak digandrungi masyarakat.

Adonan tepung beras biasanya dimasukkan ke dalam tabung bambu dan kemudian dikukus. Kudapan ini biasa dihidangkan bersama parutan kelapa serta butiran kasar tepung beras dan lumrahnya berwarna putih atau hijau.

Namun kue ini ternyata awalnya bukan berasal dari Indonesia. Lalu dari mana?

Selain terkenal di Jawa, kue putu ternyata juga terkenal di Bugis. Bedanya, putu dari Bugis berbahan dasar ketan hitam tanpa gula merah yang menghasilkan warna hitam.

Umumnya Putu Bugis disantap dengan taburan parutan kelapa serta sambal. Putu Bugis biasanya hanya dijual pagi hari sebagai pengganti sarapan.

Di Jawa, jajan tradisional yang mudah dikenali hanya dengan mendengar bunyi khas penjualnya ini ternyata bukan dari Indonesia.

Dikutip dari Republika.co.id, Mochammad Antik, penggiat sejarah Jelajah Jejak Malang (JJM), menjelaskan kudapan ini bisa ditemukan di China Silk Museum.

“Kue khas Jawa ini bisa ditemukan di China Silk Museum.  Jadi sebenarnya sudah ada 1.200 tahun silam, di masa Dinasti Ming,” jelasnya.

Baca: Lezatnya Soto Gentong di Kudus Ini Belum Tentu Bisa Kamu Temukan di Daerah Lain

Pada awalnya kue yang terkenal manis ini disebut XianRoe Xiao Long. Yang jika diartikan kue dari tepung beras dengan isian kacang hijau lembut dimasak dalam cetakan bambu.

Dalam Serat Centhini, naskah sastra lama yang ditulis tahun 1814 di masa kerajaan Mataram, kue asal China ini berkembang menjadi puthu.

Pada naskah itu disebutkan Ki Bayi Panurta meminta santrinya untuk menyajikan kudapan berupa gemblong, ulen-ulen, serabi, puthu, jadah, jenang, dendeng balur, dendeng gepuk, pisang bakar, kupat, balendrang, jenang grendul, pisang raja dan wedang bubuk.

 

 

Penulis: Loeby Galih Witantra
Editor: Ali Muntoha
Sumber: Republika.co.id

Comments
Loading...