Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Mitos di Rahtawu Kudus, Bencana dari Nanggap Wayang

Perkampungan lereng gunung Dukuh Semliro, Desa Rahtawu. (dok MURIANEWS)

MURIANEWS, Kudus – Desa Rahtawu, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus yang lokasinya berada di Gunung Muria, terdapat kepercayaan yang hingga kini masih dilestarikan. Yakni pantangan nanggap atau menggelar pertunjukan wayang.

Warga mempercayai jika pantangan ini dilanggar, maka bencana akan mendera yang empunya hajat.

Kepala Desa Rahtawu Rasmadi Didik Aryadi membenarkan adanya kepercayaan itu. Menurutnya, mitos tersebut sudah dipercayai turun temurun.

“Mitosnya benar seperti itu. Di Rahtawu untuk nanggap wayang atau mementaskan wayang tidak boleh,” katanya, Sabtu (30/10/2021).

Entah itu wayang kulit ataupun wayang orang, warga di desanya tak berani mementaskannya.

Pemandangan Rahtawu tampak di gerbang masuk desa tersebut. (MURIANEWS)

Dia mengaku pernah mengetahui mitos ini. Tepatnya di 2004, saat itu ada warga yang mementaskan wayang.

“Tiba-tiba itu sound systemnya rusak semua tidak keluar suaranya,” ujarnya.

Bahkan pada 1980 lalu menurut dia, ada warga yang juga menanggap wayang di acara khitanan keponakannya. Tak berselang lama, bencana dan mala petaka muncul.

Disebutkan jika si dalang dan anak yang menjalani khitan meninggal dunia.

“Saat itu saya masih SD. Si dalangnya itu belum sampai rumah sudah meninggal. Kemudian si anak yang khitan itu meninggal. Acara itu kan malam hari. Keesokan harinya terjadi longsor dan banjir,” ungkapnya.

Dipercaya atau tidak, menurut Rasmadi hendaknya tetap menghormati. Sebab, hal itu merupakan adat istiadat.

“Tetap dihormati karena adat istiadat itu kan sudah berkembang sejak lama. Dan hal semacam ini merupakan hukum adat yang tidak tertulis,” terangnya.

Semengara sejarawan Kudus, Sancaka Dwi Supani menjelaskan mitos itu muncul karena di Desa Rahtawu dulunya merupakan pertapaan Begawan Abiyasa.

Baca: Ketika Pakubuwono X Melewati Gapura Kalacakra yang Terkenal Magis

Tak hanya itu, beberapa tempat pertapaan masih banyak dijumpai di Desa Rahtawu. Seperti pertapaan Eyang Sakri, pertapaan Eyang Modo, dan lainnya.

“Karena di situ dulu merupakan pertapaan tokoh wayang, maka tidak boleh nanggap wayang,” katanya.

Menurutnya, ketika larangan itu dilanggar, ada kepercayaan pemilik rumah yang menggelar acara wayangan bakal terkena musibah. Mulai dari rumah yang terkena angin kencang, pohon tumbang, tanah longsor, hingga datang hujan lebat.

“Saya pernah melihat juga. Di tahun 1976 ada warga yang nanggap wayang kemudian rumahnya roboh terkena angin. Wayang-wayangnya ambruk,” terangnya.

Baca: Asal dari Mitos Bupati Kudus Tak Berani Lewati Tanggulangin Usai Dilantik

Bahkan, dia pernah mengalami sendiri peristiwa ini. Tepatnya di 2006 saat Sancaka menjadi pembina Pramuka. Di tahun tersebut Sancaka menemani anak didiknya kemah di Desa Rahtawu.

“Saya nyusul malam hari naik jip. Saya masih ingat itu malam Minggu dan saya muter radio acara wayang. Tiba-tiba ban saya itu bermasalah dan saya hampir masuk jurang. Kemudian saya ingat kalau saya nyetel wayang. Lalu saya berdoa dan meminta maaf,” ujarnya.

Dia melanjutkan, saat ini jika ada warga yang punya hajat biasanya diganti dengan acara lain. Seperti campur sari atau organ tunggal.

“Kalau saya pribadi karena ini tradisi dan sudah turun temurun ya dihormati saja. Percaya atau tidak yang jelas harus tetap menghormati karena adat istiadat ini sudah ada sejak dulu,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...