Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

METRO JATENG

Buruh Minta Kenaikan UMP 10 Persen, Apindo Jateng: Itu Memberatkan

ILUSTRASI: Warga menunjukkan pecahan uang rupiah. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Semarang – Usulan buruh untuk menaikkan Upah Minimum Provinsi (UMP) atau Upah Minimum Regional (UMR) sebesar 10 persen dinilai memberatkan oleh Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Jateng.

Ketua Apindo Jateng, Frans Kongi, menilai permintaan kelompok buruh terkait kenaikan UMP 2022 sebesar 10 persen dinilai memberatkan. Ia pun berharap kenaikan UMP Jateng 2022 tetap rasional

Meski begitu, Frans Kongi menegaskan pihaknya setuju dengan kenaikan UMP.

Baca: Buruh di Jateng Minta UMP 2022 Naik 10 Persen

“Yang jelas, Apindo Provinsi Jawa Tengah setuju dengan kenaikan UMP. Namun, kita harapkan kenaikan tersebut bisa menyesuaikan dengan kondisi recovery yang tengah berjalan,” jelas Frans Kongi, Ketua Apindo Provinsi Jawa Tengah seperti dilansir Solopos.com, Kamis (28/10/2021).

Frans menegaskan komitmen Apindo memberikan upah yang layak terhadap kaum buruh. “Ini tanggung jawab perusahaan. Bagaimana bisa memberikan upah yang baik, supaya karyawan senang, produktivitasnya meningkat. Memang semua pengusaha maunya begitu,” jelasnya.

Baca: Apindo Kudus Desak Pemerintah Percepat Vaksinasi Covid-19

Meski demikian, Frans menyebut sektor industri di Jawa Tengah masih dalam fase pemulihan setelah digempur pandemi. Oleh sebab itu dia berharap kenaikan UMR Jateng 2022 tetap rasional.

“Saat ini kita masih susah karena pandemi. Meskipun perlahan-lahan kita sudah mulai bangkit, tetapi belum bisa lari lah. Oleh karena itu, ini ada aturan baru, PP No.36/2021, saya pikir ini cukup baik untuk diterapkan,” jelasnya.

UMR Jateng saat ini dipatok dengan jumlah Rp1.798.979 dinilai masih kompetitif. Menurut Frans jumlah tersebut masih kompetitif dan memberikan dampak positif bagi pertumbuhan sektor industri di Jateng.

Baca: Dewan Pengupahan Sepakat UMK Kudus 2021 Naik, Tapi Ada yang Masih Diperdebatkan

“Upah minimum kita ini sehat, dalam arti gubernur dalam menetapkan upah sudah cukup rasional, tidak emosional. Karena daerah lain seperti itu, kenaikannya cukup tinggi. Kenyataannya, upah minimum yang terlalu tinggi membuat pengusaha tidak bisa bayar, akhirnya lari ke Jawa Tengah atau bahkan luar negeri,” jelas Frans.

Kalangan pengusaha berharap agar kenaikan UMP di Jawa Tengah bisa terus mendukung perkembangan sektor industri. Terlebih dengan banyaknya kawasan industri baru yang disiapkan untuk menampung pabrik-pabrik pindahan dari luar dan dalam negeri.

“Sekarang saya pikir we are on the right track, kita sudah di satu jalan yang baik. Untuk recovery dan peningkatan, untuk pertumbuhan ekonomi dan industri. Bukan hanya di masa pandemi, tapi juga untuk melampaui pandemi. Menuju kesejahteraan rakyat,” jelas Frans.

 

Penulis: Supriyadi
Editor: Supriyadi
Sumber: Solopos.com

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.