Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Ombudsman Kritik Beda Syarat Terbang Penumpang dan Kru Pesawat

Ilustrasi syarat terbang
Ilustrasi syarat terbang. (CNN Indonesia/Andry Novelino)

MURIANEWS, Medan – Ombudsman RI Pewakilan Sumatra Utara mengkritik adanya perbedaan syarat bagi penumpang dengan kru pesawat. Di mana, syarat terbang bagi kru pesawat lebih mudah.

Dalam Surat Edaran (SE) Menhub No. 88 tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Perjalanan Orang Dalam Negeri dengan Transportasi Udara pada Masa Pandemi Covid-19, disebutkan bahwa personel pesawat yang akan bertugas, wajib menunjukkan hasil negatif pemeriksaan PCR atau rapid tes antigen.

“Artinya, kru pesawat dibenarkan hanya menggunakan rapid tes antigen,” kata Kepala Ombudsman Perwakilan Sumut Abyadi Siregar, dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (28/10/2021).

Menurut Abyadi, isi SE Menhub yang membenarkan kru pesawat menggunakan rapid tes antigen sebagai syarat terbang, kurang tepat.

Baca juga: Meski Turun Harga, Naik Pesawat Tetap Wajib Tes PCR

Dia menyebut, biaya rapid tes antigen biayanya cukup murah, yakni sekitar Rp 100 ribu saja. Sedangkan, penumpang pesawat diwajibkan menggunakan tes dengan metode PCR yang harganya lebih mahal.

“Padahal, bila penerapan syarat rapid antigen atau PCR ini dimaksudkan untuk memutus penularan virus Covid-19, maka risiko kru pesawat untuk tertular dan menularkan virus Covid, sebetulnya juga sangat tinggi,” katanya.

Pihaknya pun melakukan sidak di Bandara Kualanamu, Deliserdang. Saat itu Ombudsman Sumut mendapati awak pesawat dari dua maskapai penerbangan hanya menggunakan rapid antigen Ketika hendak terbang.

Sementara masyarakat sebagai penumpang, diwajibkan menunjukkan surat keterangan PCR dengan hasil negatif. Padahal antara awak pesawat dan penumpang, sama-sama memiliki risiko tinggi tertular atau menularkan Covid-19.

“Risiko awak pesawat untuk tertular dan menularkan covid lebih tinggi. Karena selama dalam menjalankan tugas, terus berinteraksi dengan penumpang dalam ruang tertutup yang tidak bebas udara,” kata Abyadi.

Apalagi, lanjut Abyadi, masa berlaku rapid tes antigen itu tidak lama. Selama surat keterangan rapid tes antigen itu masih berlaku, tidak ada validasi. Sementara para kru pesawat bebas beraktivitas di luar jam kerja.

“Sebaiknya tidak ada perbedaan penerapan syarat ‘terbang’ antara kru pesawat dengan penumpang. Karena antara kru pesawat dengan penumpang, sebetulnya memiliki risiko yang sama dalam penularan virus Covid,” bebernya.

Pemerintah mulai memberlakukan test PCR untuk penumpang pesawat mulai Minggu (24/10). Hal tersebut diatur dalam Surat Edaran (SE) Kementerian Perhubungan Nomor 88 Tahun 2021 yang ditetapkan sejak 21 Oktober 2021. Tes PCR hanya berlaku untuk penumpang pesawat dari dan ke Pulau Jawa-Bali.

Ada beberapa wilayah penerbangan yang masih diperbolehkan untuk rapid test antigen sebagai syarat perjalanan. Tes ini bisa digunakan sebagai syarat perjalanan dari dan ke luar Pulau Jawa dan Bali.

Namun syarat ini hanya berlaku untuk wilayah PPKM Level 1 dan 2 yang ditetapkan dalam Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 54 Tahun 2021.

Kini pemerintahmemastikan  hasil tes swab PCR dengan tarif maksimal Rp275 ribu untuk di Jawa-Bali dan Rp300 ribu di luar pulau tersebut keluar dalam waktu 1×24 jam.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: CNN Indonesia

Comments
Loading...