Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kisah Mbah Hasyim, Santri Pejuang Pati Dibunuh Penjajah Usai Salat Asar

Bupati Pati Haryanto berziarah di makam Gus Hasyim saat momen Hari Santri. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Pati – Kabupaten Pati mempunyai segudang santri yang berjuang untuk kemerdekaan Indonesia. Salah satunya adalah Muhammad Hasyim yang merupakan putra dari Mbah Mahfudh Salam Kajen.

Ia tercatat lahir pada tahun 1929.  Namun, usianya tidak berlangsung lama, setelah terjadi penyergapan oleh tentara Belanda pada tahun 1949.

Berdasarkan sumber yang diperoleh MURIANEWS dari PCNU Kabupaten Pati dan sejumlah literatur, sebagai seorang anak muda yang hidup di masa perjuangan, Gus Hasyim, sapaan akrab Muhammad Hasyim, mewarisi jiwa perjuangan dari ayahnya.

Apalagi, ayahnya tersebut merupakan seorang pejuang yang gigih melawan penjajahan Belanda yang akhirnya wafat di penjara Ambarawa pada tahun 1944.

Gus Hasyim sendiri memiliki karakter yang keras dan tegas dalam memegang prinsip kehidupannya. Dia tidak bisa diam melihat penjajahan yang dilakukan oleh tentara Belanda.

Sehingga ia memilih terjun di medan laga dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Para santri berziarah di makam Mbah Hasyim di Taman Makam Pahlawan Pati. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

Apa yang dilakukan oleh Gus Hasyim itu kemudian menginspirasi banyak santri yang lain. Mereka turut terjun dalam perjuangan menjaga kemerdekaan dengan menyerukan Resolusi Jihad yang diinisiasi oleh Pendiri Nahdlatul Ulama (NU), KH Hasyim Asy’ari 76 tahun yang lalu.

Gus Hayim tidak sendiri. Beberapa santri lain dari Kajen, Pati seperti Abdullah Sa’id,

Masyhadi, Na’im Ihsan beserta santri lainnya, turun laga untuk melawan agresi Belanda I dan II. Saat itu, gerbong perjuangannya melalui barisan Hizbullah.

Bersama dengan tentara Indonesia, barisan Hizbullah melakukan penyergapan dan perampasan senjata dari tentara Belanda. Hasil rampasan itu disimpan dikomplek pemakaman Kajen.

Setelah terkumpul dalam jumlah banyak, Gus Hasim bersama santri yang lain pun mendistribusikan senjata itu kepada para pejuang yang lain. Inilah yang kemudian Gus Hasyim dikenal banyak tentara lantaran mahir dalam mengoperasikan senjata rampasan Belanda.

Kemahirannya itu, rupanya didengar oleh tentara Belanda yang berada di jalur operasi Agresor. Hingga akhirnya, Gus Hasyim menjadi target bagi tentara Belanda.

Sejumlah mata-mata pun dipasang oleh Belanda, hingga Gus Hasyim harus berpindah-pindah tempat agar tidak mudah ditemukan.

Suatu hari pada akhir tahun 1949, saat berada di surau di wilayah Sukolilo untuk melaksanakan salat asar. Ia pun menjadi imam dari Abdul Manan dan Sholeh serta seorang tentara
bernama Harun.

Setelah salat asar, tentara Belanda datang dan kemudian menyergap Gus Hasyim serta santri yang lain. Masih dalam posisi berdoa, beberapa kali tembakan diarahkan di kepala Gus Hasyim. Namun, tembakan itu tidak mempan.

Belanda kemudian mengabil tindakan yang lebih brutal, yakni dengan memberondong menggunakan senjata api. Gus Hasyim pun gugur.

Saat itu, usianya masih sangat muda, yakni 20 tahun. Sementara para pengikutnya berhasil
lolos dan menyampaikan kabar penangkapan dan kematian beliau ke Kajen.

Jasad Gus Hasyim awalnya dimakamkan di Sukolilo. Setelah beberapa tahun kemudian, atas izin keluarga akhirnya dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Pati.

Nisan makam Gus Hasyim pun ditandai dengan nomor 95 atas nama Hasyim dengan keterangan gugur. Pada saat pemindahan makam itu, jasad Gus Hasyim disebutkan masih dalam keadaan utuh.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...