Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Awal Mula Mitos Pejabat Tak Berani Masuk Gapura Menara Kudus

Kompleks Menara Kudus yang punya mitos bisa melengserkan pejabat. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Gapura Kalacakra yang terdapat di kompleks Menara Kudus dipercaya oleh banyak orang mampu melengserkan pejabat yang melewatinya. Mitos ini muncul sepeninggal Sunan Kudus dan berkembang hingga saat ini.

Hidayat, pengamat sejarah Kudus menceritakan soal Gapura Kalacakra tersebut. Menurutnya, gapura itu diyakini terdapat rajah yang dibuat oleh Sunan Kudus.

Hal itu bermula dari perselisihan antara Arya Penangsang dengan Joko Tingkir yang saat itu tengah berebut takhta Kerajaan Demak. Namun, Hidayat tidak mengetahui secara pasti tahun peristiwa tersebut berlangsung.

“Dirajah ketika dilatarbelakangi konflik Demak. Arya Penangsang merasa berhak atas takhta Demak. Sementara saat itu takhta Demak sudah beralih ke era Joko Tingkir,” katanya, Kamis (21/10/2021).

Ketua Komunitas Lalana Walking Tour yang konsen terhadap isu sejarah ini menyebut, Sunan Kudus berupaya mendamaikan keduanya. Yakni lewat rajah Kalacakra. Saat itu keduanya diminta untuk duduk di kursi yang telah disiapkan.

“Dari beberapa versi itu menjelaskan kalau Arya Penangsang merupakan murid Sunan Kudus. Sehingga dibela oleh Sunan Kudus. Tapi karena Arya Penangsang ambisius dia salah duduk kursi yang diberi rajah Sunan Kudus. Akhirnya Arya Penangsang kalah,” ujarnya.

Warga melewati gapura di Menara Kudus yang dipercaya terdapat rajah kolocokro. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

Rajah itu dipercaya kini berada di gapura pintu Menara Kudus. Dan sejak saat itu, banyak yang menyakini jika gapura itu memiliki daya magis. Bahkan beberapa pejabat mempercayai jika melewati gapura itu akan lengser.

“Terlepas itu lengser atau tidak lengser sebenarnya bisa diambil pelajaran. Yakni ketika memasuki area makam atau masjid harus menanggalkan keduniawian. Sifat sombong juga harus dihilangkan,” pungkasnya.

Baca: Gus Mus: Menara Kudus Bentuk Perjuangan Dakwah Kanjeng Sunan

Sementara itu, pemerhati sejarah sekaligus Dosen IAIN Kudus Moh Rosyid mengatakan, mitos Gapura Kolocokro tidak perlu dibesar-besarkan. Dia berpendapat agar masyarakat lebih berpikiran rasional.

“Itu sebenarnya mitos. Tidak perlu dilestarikan. Karena menurut saya hal-hal yang irasional itu mengganggu akidah,” ujarnya.

Menurutnya, perihal ketakutan lengsernya pejabat juga tergantung dari kepercayaan pejabat itu sendiri. Moh Rosyid berpendapat pejabat seakan-akan ketakutan sendiri.

“Pejabat yang lengser itu harusnya dimaknai karena kinerjanya yang tidak bagus atau memang ganjaran dari Allah SWT. Bukan semata-mata karena kekuatan rajah Kalacakra. Kalau saya melihatnya seperti itu,” ungkapnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...