Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Anak-Anak Ngemis di Jalanan Kudus, Orang Tua Dipanggil Satpol

Satpol PP melakukan pembinaan dan pendataan kepada pengemis anak-anak dan keluarganya. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Kudus – Satpol PP Kudus menggelar razia pengemis, gelandangan dan orang terlantar (PGOT) di sejumlah traffic light di Kudus, Rabu (20/10/2021) malam. Alhasil dalam razia tersebut, petugas satpol PP menemui sejumlah pengemis dan pengamen.

Ironisnya, di antara pengemis tersebut beberapa di antaranya merupakan anak-anak di bawah umur.

Kasatpol PP Kudus Kholid Seif mengatakan, keberadaan PGOT selama ini sangat mengganggu pengguna jalan.

“Jadi memang kami tertibkan, semalam ada enam anak di bawah umur. Satu kami bawa ke kantor yang lima lari, termasuk ada juga orang dewasa yang lari,” katanya, Kamis (21/10/2021).

Ia menjelaskan, anak-anak di bawah umur itu diduga menjadi korban eksploitasi atau pemanfaatan oleh orangtuanya, agar mendapatkan belas kasihan dan empati dari pengguna jalan.

“Satu anak yang kami bawa ke kantor kami tanya, ada pemaksaan dari orang tua (mengemis, red), padahal harusnya mereka sekolah. Dia warga Kudus asli,” katanya.

Baca: Dua Jam Dapat Rp 200 Ribu, Pengemis Pura-Pura Lumpuh di Sukoharjo Kantongi Rp 500 Ribu saat Ditangkap Satpol PP

Saat diperiksa, di kaleng yang digunakan untuk mengemis ada uang Rp 8.500 dan Rp 50 ribu di sakunya.

Usai dilakukan pendataan, pihaknya meminta orang tua anak tersebut untuk menjemput. Namun yang datang untuk menjemput.

“Yang jemput saat itu kakaknya, kami data dan kami beri pembinaan juga agar tidak mengulanginya lagi,” ucapnya.

Pihaknya sendiri sangat menyayangkan anak-anak yang seharusnya sekolah itu malah bekerja meminta-meminta di jalan.

Pihaknya juga tengah berkoordinasi dengan Dinas Sosial dan intansi-instansi terkait. Sehingga ke depan razia yang dilakukan juga akan lebih efektif dan mempunyai solusi usai dirazia agar tidak melakukan hal yang sama.

“Jadi ada solusi, misal anak dilakukan pembinaan dan kembali sekolah. Untuk manusia silver, badut atau yang lain itu bisa diberi opsi kerja lain, bisa melalui pelatihan-pelatihan seperti di BLK. Jadi juga ada solusi,” imbuhnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...