Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Sukun Samping
Sukun Samping

Sungai Mendadak Meluap dan Tenggelamkan 11 Siswa MTs di Ciamis, Ini Penjelasan Pakar

Ilustrasi pencarian SAR di sungai. (Foto: ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko)

MURIANEWS, Ciamis – Sungai Cileueur lokasi meninggalnya 11 siswa MTs Harapan Baru di sebut memiliki arus yang relatef tenang. Namun, saat peristiwa susur sungai dari kegiatan Pramuka di sekolah itu, sungai di Desa Utama, Kecamatan Cijeungjing, itu mendadak meluap.

Peristiwa ini kemudian mendapat sorotan dari pakar hidrologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Dr Pramono Hadi. Dia menilai, meluapnya air sungai secara tiba-tiba bisa saja terjadi. Itu, tergantung berada di mana arus sungai dan karakteristik wilayahnya.

Seperti diketahui, Sungai Cileueur yang menjadi lokasi peristiwa naas itu, merupakan hulu dari Sungai Citandui.

“Kejadian banjir (bandang) yang menyebabkan korban jiwa dipicu adanya hujan deras di hulu. Sungai ini merupakan hulu Sungai Citandui,” kata Pramono, dikutip dari Kompas, Sabtu (16/10/2021).

Untuk itu, perlu diketahui alur sungai dalam suatu daerah aliran sungai (DAS) yang terbagi dalam beberapa orde sungai.

Orde sungai adalah posisi percabangan alur sungai di dalam urutannya terhadap induk sungai di dalam suatu DAS. Dengan begitu, semakin banyak jumlah orde sungai maka akan semakin luas pula DAS-nya dan akan semakin panjang pulau alur sungainya.

Dijelaskan Pramono, Sungai Cileueur itu mungkin termasuk Sungai orde 2 atau orde tiga. Artinya sungai ini merupakan pertemuan antara sungai orde 1 ataupun pertemuan antara sungai orde 2.

Pada sungai orde 1 dan 2, lanjut Pramono, memiliki karakter yang curam. Dengan begitu, bila terjadi hujan deras kurang dari satu jam saja akan menghasilkan banjir.

Sementaranya munculnya pusaran air, Pramono menjelaskan celuk-celuk dan terjunan-terjunan pada sungai yang curam (gradien hidrolik tinggi) seperti di Sungai Cileuer ini lazim keberadaannya, sehingga sungai tersebut memiliki sifat aliran yang turbulen.

“Sifat turbulen ini berbahaya jika untuk aktivitas seperti rafting,” kata dia. Dengan kondisi inilah, Pramono mengingatkan agar siapa saja, termasuk guru dan siswa seperti dalam kasus ini yang akan melakukan aktivitas di sekitar sungai sebaiknya mengetahui sifat banjir di sungai ini.

“Sifat banjir di sistem sungai hulu seharusnya menjadi kompetensi siswa atau guru yang memiliki wilayah (sungai dekat dengan area) berlereng atau bergunung,” jelasnya.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: Kompas

Comments
Loading...