Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Cerita Pengusaha Bus Pati Dikejar-kejar Leasing saat Pandemi

Bus wisata di Pati banyak nganggur karena pandemi. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Pati – Bagi orang yang mempunyai utang di lembaga keuangan, tentunya harus memutar otak agar bisa membayar cicilan per bulan. Terlebih Pandemi Covid-19 seperti ini, tidak semua pengusaha menemui jalan mulus.

Tidak sedikit pengusaha yang gulung tikar lantaran terdampak dari pagebluk ini. Belum lagi ketika mereka harus membayar angsuran bulanan di bank.

Kondisi seperti ini hampir dialami oleh para pengusaha di Bumi Mina Tani, terutama pengusaha bus pariwisata. Bahkan juga dikejar-kejar penagih utang dari leasing.

Lantaran, hampir dua tahun bus menganggur tidak mendapatkan orderan, sehingga pemasukan untuk membayar angsuran pun nyaris tidak ada.

Baptis Soegiharto, pengusaha bus wisata di Desa Tlogorejo, Kecamatan Tlogowungu, Pati sangat merasakan dampak tersebut. Sekalipun di garasi masih ada bus yang parkir, rupanya semua bus tersebut juga terancam hilang untuk membayar angsuran.

Ia juga sudah berkali-kali dikejar-kejar debt collector, hingga rumahnya selali ditunggi dan membuatnya ketakutan.

Soegiharto bercerita, pada 2015 lalu, ia hanya mempunyai lima bus pariwisata yang sering disewa untuk wisata religi maupun liburan sekolah.

Baca: Jerit Pengusaha Bus Wisata, Dulu Penghasilan Rp 200 Juta Kini Nol Rupiah

Karena pendapatan yang menjanjikan, dia pun nekat untuk membeli bus baru dengan modal utang dari bank dan jasa asuransi. Alhasil, enam bus secara berangsur kemudian didatangkan, hingga jumlah bus ada sebanyak sebelas unit.

“Saat itu, saya mempunyai harapan agar bus bisa sampai 20 unit agar lebih mudah dalam perawatan, termasuk peremajaan. Namun, belum sampai 20 unit, pandemi terlebih dahulu sudah melanda. Sehingga saya mengurungkan niat itu, sambil menunggu pandemi selesai,” katanya, kamis (14/10/2021).

Setelah menunggu lama, rupanya pagebluk itu tidak mereda, bahkan semakin mewabah hingga ke penjuru Nusantara.

Kemudian muncul kebijakan pemerintah yang mewajibkan adanya PPKM darurat.  Semua tempat pariwisata ditutup, termasuk wisata religi. Kemudian terjadi penyekatan di jalan-jalan utama antarprovinsi.

“Saat itu, saya sudah limbung, sudah tidak bisa apa-apa, karena semua bus nganggur di garasi. Tidak ada pendapatan sama sekali, tetapi setiap bulan harus bayar angsuran. Saya bingung. Semua karyawan saya PHK,” ceritanya.

Untuk mencukupi kebutuhan harian, termasuk membayar angsuran, ia kemudian menjual bus satu persatu hingga saat ini masih tersisa lima bus. Pun demikian, rupanya enam bus yang habis terjual itu tidak bisa mencukupi kebutuhan perawatan dan angsuran yang ditanggung.

Sampai kemudian pemerintah mengeluarkan kebijakan adanya relaksasi bagi kreditur di jasa keuangan.

Baca: Pengusaha Perjalanan Wisata di Pati Sampai Jual Bus, Sudah Setahun Karyawan Dirumahkan

Dia pun langsung mengajukan relaksasi tersebut kepada bank maupun jasa asuransi yang dimintai utang.

Dia mengajukan agar diberikan relaksasi selama satu tahun untuk tidak membayar angsuran. Namun, permintaan itu tidak dikabulkan.

Karena tidak bisa melakukan pembayaran selama dua bulan, pihak leasing pun mendatangi rumah Soegiharto, bahkan mengancam akan mengambil paksa bus miliknya.

“Saya diancam, sampai para leasing itu menunggui rumah saya hingga larut malam. Saya kan jadi ketakutan. Karena itu kemudian istri saya juga mengalami karena sering didatangi leasing itu. Padahal saya belum bayar angsuran selama dua bulan, karena tidak ada uang. Sebelumnya saya juga tidak pernah telat bayar. Tapi karena kondisinya seperti ini, saya tidak ada pemasukan sama sekali, mau bayar dari mana,” ungkapnya.

Dirinya berharap, pemerintah dapat mengambil kebijakan yang jelas dengan adanya relaksasi ini.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

 

Comments
Loading...