Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

BPNB Dorong Daerah Tingkatkan Kesiapsiagaan Meminimalisir Dampak Bencana

Tim SAR gabungan sedang latihan penanganan korban banjir yang dilangsungkan di Sungai Serang. (MURIANEWS/Dani Agus)

MURIANEWS, Jakarta – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mendorong daerah dalam hal ini, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) untuk meningkatkan kesiapsiagaannya dalam meminimalisir dampak bencana yang terjadi.

Peringatan itu diungkapkan mengingat saat ini mulai memasuki musim hujan. Di mana, dalam musim tersebut muncul potensi bahaya hidrometeorologi. Tidak hanya banjir yang menjadi ancaman, namun juga tanah longsor maupun bencana lainnya.

Baca juga: BPBD Kudus Butuh Tambahan Armada untuk Tangani Bencana

Deputi Bidang Pencegahan BNPB Prasinta Dewi menekankan kesiapsiagaan dilakukan untuk mencegah dan meminimalkan dampak ancaman bencana banjir serta gerakan tanah selama Oktober 2021.

Di samping itu, Prasinta meminta pemerintah daerah untuk meningkatkan kegiatan sosialisasi, edukasi dan mitigasi terkait upaya pencegahan banjir dan gerakan tanah dengan menggunakan media elektronik atau media sosial.

“Melakukan koordinasi dengan lembaga atau organisasi terkait, seperti RAPI, Orari, Senkom, Forum PRB, dalam penyebarluasan informasi dini banjir dan gerakan tanah secara berkala sampai kepada masyarakat, khususnya yang bermukim di wilayah berisiko tinggi,” tulis Prasinta dalam rilis yang diterima MURIANEWS, Rabu (13/10/2021).

Prasinta juga mengingatkan BPBD untuk menyiapkan serta menyosialisasikan tempat evakuasi aman dengan mempertimbangkan protokol Kesehatan. Hal tersebut perlu ditunjang dengan pengidentifikasian kebutuhan dan ketersediaan sumber daya yang ada di daerah. Prasinta meminta BPBD untuk melihat kembali rencana kontingensi yang telah disusun.

“Apabila diperlukan, dapat menetapkan status darurat bencana dan membentuk pos komando penanganan darurat bencana serta mengaktivasi rencana kontingensi menjadi rencana operasi,” tambahnya.

Berdasarkan pada analisis Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Badan Informasi Geospasial, wilayah berpotensi banjir pada kategori menengah hingga tinggi.

Wilayah berpotensi banjir dengan kategori tinggi teridentifikasi berada di Aceh (Aceh Singkil, Aceh Tamiang dan Gayo Lues), Sumatera Barat (Langkat dan Mandailing Natal), Jambi (Kerinci dan Kota Sungai Penuh), Bengkulu (Bengkulu Selatan, Bengkulu Tengah, Bengkulu Utara, Kaur, Lebong dan Seluma), Sumatera Selatan (Lahat, Ogan Komering Ulu), Lampung (Pesisir Barat), Sulawesi Tengah (Sigi), Papua Barat (Sorong dan Teluk Bintuni) dan Papua (Deiyai, Dogiyai, Jayawijaya, Membramo Tengah, Mimika, Nabire, Paniai dan Yalimo).

Pada potensi gerakan tanah, Badan Geologi ESDM mengeluarkan analisis untuk periode Oktober 2021. Badan Geologi mengidentifikasi beberapa titik hingga tingkat kecamatan pada 34 provinsi berpotensi gerakan tanah dengan kategori menengah hingga tinggi.

Sementara itu, data BNPB pada bencana banjir periode 1 – 8 Oktober 2021 mencatat 15 kejadian. Sebagian besar banjir berlokasi di Kalimantan, seperti di Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur. Selama periode tersebut, tercatat empat warga meninggal dan 20 lainnya luka-luka akibat banjir bandang di wilayah Luwu, Provinsi Sulawesi Selatan (3/10). Sedangkan kerusakan rumah pada kurun waktu ini, BNPB mencatat rumah rusak sebanyak 12 unit dan fasilitas umum 6 unit.

 

Reporter: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi

Comments
Loading...