Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Ini Tips Jaga Kesehatan Mental Remaja saat Pandemi Covid-19

ilustrasi

MURIANEWS, Jakarta – Hari kesehatan mental dunia diperingati setiap tanggal 10 Oktober. Kali ini peringatannya bertepatan dengan pandemi Covid-19. Meski situasi Covid-19 di Indonesia mulai membaik, namun potensi gangguan kesehatan mental masih bisa terjadi.

Menurut data secara global banyak remaja berusia 10 hingga 19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental. Bahkan, hampir 46 ribu remaja bunuh diri setiap tahunnya.

Baca juga: Kamar Mandi Masjid Ini Dipilih Remaja 17 Tahun Jadi Tempat Diduga Bunuh Diri

Para remaja ini merasakan perubahan hidup yang drastis akibat wabah Covid-19. Mereka lalu merasa cemas, terisolahi hingga dibuat kecewa karenanya.

Dikutip dari laman resmi UNICEF, ada beberapa tips yang bisa dilakukan untuk mencegah gangguan kesehatan mental bagi remaja. Psikolog Remaja, dr. Lisa Damour mengatakan, remaja bisa mempraktikan perawatan diri dan menjaga kesehatan mintalnya sendiri.

Berikut adalah tips-tips yang bisa dilakukan untuk menjaga kesehatan mental.

  • Sadari bahwa kecemasanmu adalah hal yang wajar

“Para psikolog sudah lama menyadari bahwa kecemasan adalah fungsi normal dan sehat yang bisa membuat kita waspada terhadap ancaman, dan membantu kita untuk mengambil tindakan untuk melindungi diri,” kata Dr. Damour.

“Kecemasanmu akan membantumu mengambil keputusan yang harus dibuat saat ini, seperti tidak menghabiskan waktu bersama orang lain atau dalam kelompok besar, mencuci tangan dan tidak menyentuh wajah.”

Perasaan-perasaan tersebut tidak hanya membantu menjaga dirimu, tapi juga orang lain. Hal inilah yang mencerminkan

“Bagaimana kita ikut menjaga anggota masyarakat. Kita juga memikirkan orang-orang di sekitar kita, lho.”

Merasa cemas mengenai Covid-19 memang hal yang benar-benar bisa dimengerti, tetapi pastikan bahwa kamu

“Menggunakan sumber yang terpercaya (seperti situs UNICEF atau WHO) ketika mencari informasi, atau cek kembali informasi yang kamu dapatkan apakah berasal dari saluran yang kurang bisa diandalkan reliabilitasnya,” nasihat Dr. Damour.

Jika kamu merasa mengalami gejala-gejala yang berhubungan dengan Covid-19, segera bicara dengan orang tuamu.

“Ingat bahwa penyakit akibat infeksi Covid-19 itu pada umumnya ringan, terutama pada anak-anak dan dewasa muda,” kata Dr. Damour.

Penting juga untuk diingat, banyak gejala Covid-19 yang bisa diobati. Damour menyarankan untuk memberi tahu orang tua atau orang dewasa yang terpercaya jika kamu merasa tidak enak badan atau merasa khawatir tentang virus, agar mereka bisa membantu.

“Ada banyak hal efektif yang dapat kita lakukan untuk menjaga agar diri kita dan orang lain tetap aman dan merasa lebih bisa mengendalikan keadaan kita: Sering mencuci tangan, jangan menyentuh wajah, dan melakukan social distancing atau pembatasan sosial.”

  • Cari pengalihan

“Menurut para psikolog, ketika kita berada dalam kondisi yang sangat sulit, akan sangat membantu untuk mengenali masalah menjadi dua kategori: Hal-hal yang bisa kita kendalikan, dan hal-hal yang tidak bisa kita kendalikan,” kata Dr. damour.

Menurutnya, mencari pengalihan cukup membantu dalam menjaga kesehatan mental. Pengalihan itu bisa berupa mengerjakan PR, menonton film kesukaan, atau membaca novel sebelum tidur. Cara-cara itu adalah hal yang disarankan oleh Dr. Damour untuk mencari pelampiasan dan menemukan keseimbangan dalam kehidupan sehari-hari.

  • Temukan cara baru untuk berkomunikasi dengan teman-temanmu

Gara-gara pandemi Covid-19 ini memang membatasi caramu berkomunikasi. Sebab, adanya saran dari WHO untuk menjaga jarak dan larangan berkerumun. Namun, ada cara komunikasi yang aman selama masa pandemi ini, yakni dengan memanfaatkan media sosial.

Damour menyarakan untuk menyalurkan kreativitasmu melalui media sosial. Seperti mengikuti Tik-Tok Challenge seperti #safehands, #dirumahaja, dan lain-lain.

“saya tidak akan pernah meremehkan kreativitas remaja,” kata Dr. Damour,

“Menurut saya, remaja akan menemukan cara untuk (terhubung) dengan satu sama lain secara online melalui cara yang belum pernah dilakukan sebelumnya.”

“(Tetapi) memiliki akses tanpa batas ke layar kaca atau media sosial itu bukan hal yang bagus. Itu hal yang tidak sehat dan tidak cerdas, dan bahkan bisa menambah rasa cemasmu,” kata Dr. Damour,

Meski demikian, perlu berdiskusi dengan orang tuamu untuk mengatur jadwal screen time atau waktu yang Kamu habiskan di depan televisi/gadget.

  • Fokuslah pada dirimu

Pernahkah kamu berniat untuk belajar hal baru, membaca buku baru, atau belajar cara memainkan alat musik tertentu? Sekarang lah saatnya untuk melaksanakannya. Fokus pada diri sendiri dan mencari cara untuk memanfaatkan waktu tambahan yang kamu dapatkan adalah cara yang produktif untuk menjaga kesehatanmu.

“Saya sendiri sudah membuat daftar buku-buku yang ingin saya baca dan hal-hal yang dari dulu sudah ingin saya lakukan,” kata Dr. damour.

“Kalau sudah bicara tentang perasaan yang menyakitkan, satu-satunya jalan keluar adalah berusaha melaluinya.”

“Kalau sudah bicara tentang perasaan yang menyakitkan, satu-satunya jalan keluar adalah berusaha melaluinya.”

  • Selami perasaanmu

Kehilangan kesempatan untuk mengikuti acara-acara dengan teman, acara untuk menyalurkan hobi, atau pertandingan olahraga, adalah hal yang sangat mengecewakan.

“Ini adalah kehilangan dengan skala besar dan menjengkelkan, dan wajar untuk dirasakan oleh remaja,” kata Dr. Damour.

Cara terbaik untuk mengatasi kekecewaan ini? Biarkan dirimu merasakan kekecewaan ini. “Kalau soal mengalami perasaan yang menyakitkan, satu-satunya jalan keluar adalah berusaha melaluinya. Lanjutkan hidupmu dan jika merasa sedih, selami perasaanmu. Jika kamu bisa membiarkan dirimu merasa sedih, akan lebih cepat pula kamu merasa lebih baik.”

Setiap orang punya cara berbeda untuk mengolah perasaan. “Beberapa anak akan menyalurkan perasaan mereka dengan membuat karya seni, beberapa anak memilih berbicara dengan teman-teman mereka dan menggunakan kesedihan yang dirasakan bersama sebagai cara untuk merasa terhubung di tengah situasi keteka mereka tidak bisa bertemu secara fisik, sementara beberapa anak memilih untuk mencari cara untuk berdonasi makanan,” kata Dr. Damour. Yang penting adalah kamu melakukan hal yang terasa benar bagimu.

  • Berbaik hatilah pada diri sendiri dan orang lain

Beberapa remaja mengalami bullying dan pelecehan di sekolah karena coronavirus. “Menjadi bystander yang aktif (pembela) adalah cara terbaik untuk menghadapi segala jenis bullying,” kata Dr. Damour. “Anak-anak dan remaja yang menjadi target bullying tidak seharusnya diminta untuk melawan para pelaku bullying secara langsung. Justru, kita lah yang mesti mendorong mereka untuk mencari pertolongan dan dukungan dari teman atau orang dewasa.

Jika kamu menyaksikan temanmu dibuli, dekati mereka dan tawarkan dukungan. Tidak melakukan apapun bisa membuat temanmu merasa bahwa tidak ada yang peduli padanya. Kata-katamu bisa membuat perubahan.

Dan ingatlah: Sekarang, dibanding masa-masa sebelumnya, adalah saat yang paling penting bagi kita untuk untuk lebih bijaksana dalam memutuskan apa yang akan kita bagikan atau katakana kepada orang lain.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: UNICEF

Comments
Loading...