Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Duh! Kematian Ibu dan Bayi di Kudus Tinggi

Bupati Kudus Hartopo menandatangani komitmen bersama penurunan kematian ibu dan anak. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Kabupaten Kudus mencatat jumlah kematian ibu dan bayi hingga Oktober 2021 ini sangat tinggi. Jumlahnya pun menyentuh angka 21 kasus untuk kematian ibu dan 60 kasus untuk kematian anak.

Bupati Kudus HM Hartopo menyebut, pandemi Covid-19 menjadi salah satu penyebabnya. Baik dari sisi ketersediaan fasilitas bersalin maupun faktor psikis dari ibu hamil.

“Ada 21 kasus ibu meninggal dan 60 kasus anak meninggal hingga saat ini. Itu kasus yang lumayan tinggi,” katanya di pendapa kabupaten usai menadatangani komitmen bersama penurunan angka kematian ibu dan anak, Selasa (12/10/2021).

Ketika lonjakan kasus Covid-19 beberapa waktu lalu, sejumlah fasilitas memang mengalami over capacity. Sehingga ruangan yang seharusnya bisa dipakai untuk perawatan noncovid, dialihkan ke pasien covid.

Hal tersebutlah yang kemudian mengurangi jumlah fasilitas penunjang persalinan bagi ibu hamil. “Hingga akhirnya banyak yang tidak bisa terlayani dengan baik,” ujarnya.

Baca: Bikin Pilu! 26 Ibu Hamil dan Melahirkan di Klaten Meninggal Gegara Corona

Banyak ibu hamil juga, lanjut Hartopo, kemudian merasa takut untuk memeriksakan kandungannya ke fasilitas kesehatan. Alasannya adalah karena takut tertular Covid-19.

Oleh karena itu, ketika semua pihak bisa bersinergi bersama dalam mengentaskan kematian ibu dan anak di Kudus, pihaknya menjamin hal tersebut bisa tercapai.  “Dilakukan pendampingan supaya tidak terjadi ketakutan-ketakutan seperti itu lagi,” jelasnya.

Baca: Duh! 14 Ibu Melahirkan di Jepara Meninggal karena Covid

Para camat dan pimpinan wilayah lain pun diminta aktif memonitoring melalui bidan-bidan desa.Terlebih, keluarga-keluarga dengan kategori menengah ke bawah.

Hartopo mengatakan, keluarga dengan golongan menengah ke bawah cenderung kurang memikirkan keselamatan bayi dan ibunya. Mengingat yang terpenting adalah bagaimana bisa untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari keluarganya.

“Dipantau, kalau perlu sejak masa kehamilan atau baru menikah diberi edukasi tentang ini,” tandasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

 

Comments
Loading...