Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

BURSA KETUM PBNU

PWNU-PCNU Diminta Tak Nyatakan Dukungan

Logo NU (Google)

MURIANEWS, Jakarta – Sejumlah nama dibeberkan dalam survei Institute for Democracy & Strategic Affair (Indoestrategic) tentang calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU).

Dalam survei, nama Ketua PWNU Jawa Timur Marzuki Mustamar menempat urutan pertama dengan persentase 24,7 persen. Posisinya disusul Ketua MUI Jawa Timur Hasan Mutawakkil Alallah (22,2 %).

Sementara di posisi ketiga, ada Said Aqil Siradj (14,8 %), Ahmad Bahauddin Nursalim atau Gus Baha (12,4 %), Katib Aam PBNU Yahya Cholil Staquf (3,7 %) dan Ketua PBNU Marzuki Syuhud (1,2 %).

Survei itu dilakukan pada 23 Maret-5 April 2021, untuk mencari tahu elektabilitas para tokoh untuk terpilih jadi Ketum PBNU. Namun belakangan, hanya dua nama yang sudah terdengar di kalangan pengurus wilayan, yakni Said Aqil Siradj dan Yahya Cholil Staquf  atau Gus Yahya.

Baca juga: Ikatan Gus-Gus Indonesia Tolak Ketum PBNU Tiga Periode, Said Aqil Bisa Terjegal

Ketua PWNU DKI Syamsul Maarif membenarkan terkait kuatnya dua nama tersebut. Meski begitu, Syamsul Maarif mengatakan, kemungkinan munculnya nama-nama lain juga masih terbuka lebar.

“Menurut pandangan kami, yang sudah siap maju secara pribadi sudah menyampaikan kesediaannya adalah dua orang, satu adalah Kiai Said Aqil. Kedua adalah Gus Yahya Staquf. Ya bisa jadi akan muncul nama-nama lain sebagai kuda hitam atau apa bahasanya, sebetulnya juga Marzuki Mustamar juga layak memimpin PBNU. Cuma sekarang yang sudah menyatakan kesanggupannya mencalonkan diri adalah dua orang itu,” ujar Syamsul dikutip dari Detikcom, Jumat (8/10/2021).

Meski muncul banyak nama dalam survei, dia mengajak semua PWNU dan PCNU tidak secara terbuka menyatakan dukungan. Dia khawatir soliditas NU dapat terganggu.

“Harapan saya, memohon ketua-ketua PW atau PC yang punya suara itu tidak men-declare, deklarasi dukungan kepada tokoh-tokoh tertentu, karena itu bagi saya akan merusak persahabatan, perkawanan, dan tidak etis. Karena kita semua ini adalah kawan dekat, pemimpin kita, baik itu Kiai Said atau Gus Yahya itu kan pemimpin-pemimpin kita semua,” ujar Syamsul.

“Jangan seakan-akan ada saling adu kekuatan. Jadi berharap kepada ketua wilayah, se-provinsi, untuk tidak mendeklarasikan dukungan kepada tokoh tertentu demi kepentingan bersama, yaitu etika kitalah,” sambung Syamsul.

Selain itu, Syamsul berharap dalam Muktamar NU dapat menghasilkan program dan rekomendasi untuk kepentingan bangsa. Syamsul berharap muktamar bisa menghasilkan hal yang berkualitas.

“Saya juga sering menyampaikan bahwa mari kita jadikan muktamar itu muktamar yang berkualitas dan bermartabat. Berkualitas artinya tidak hanya memilih ketum dan rois aam, tapi ada semacam program dan rekomendasi untuk kepentingan bangsa dan bernegara. Bahkan untuk kepentingan dunia internasional yang lebih luas jadi,” imbuh Syamsul.

Selain itu, Syamsul mengusulkan muktamar digelar secara hybrid. Ini dilakukan untuk mencegah penularan COVID-19.

“Saya sih secara pribadi mengusulkan hybrid, bukan berarti kita mengurangi silaturahmi, tapi kondisi seperti ini NU harus menjadi contoh-teladan bagi umat. Kondisi pandemi jangan sampai mengumpulkan orang banyak di satu tempat, kalau hitung-hitungan kami, itu minimal akan dihadiri 5.000, 5.000 itu minimal,” ujar Syamsul.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: Detikcom

Comments
Loading...