Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kemampuan Membatik Pelajar Jepara Dinilai Merosot Sejak Pandemi

Koleksi batik karya pelajar SMKN 2 Jepara. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – Pandemi Covid-19 menggebuk semua lini kehidupan. Salah satu yang paling kentara adalah lini pendidikan, termasuk pendidikan di bidang kriya batik.

Indri Mustika Sari, Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Tata Busana Jawa Tengah, tak menampik realita itu. Bahkan, ia berani menyatakan bahwa kemerosotan keahlian pelajar Jepara dalam membantik sampai 50 persen.

“Kemampuannya jelas menurun. Sampai 50 persen. Mau bagai mana lagi? Kita tidak bisa menjalankan pendidikan secara tatap muka. Padahal, membatik harus lebih banyak tatap muka,” kata Indri, Jumat (8/10/2021).

Selama masa pandemi, di SMK Negeri 2 Jepara misalnya, hanya pelajar kelas XII saja yang terkadang menjalani pembelajaran tatap muka. Sebab, di kelas XII mereka harus membuat karya. Sedangkan, untuk kelas X dan XI pembelajarannya daring.

“Kelas XII itu mereka harus PKL (Praktik Kerja Lapangan, red). Kita bagi dalam kelompok-kelompok,” jelas Indri, yang juga sebagai guru di SMKN 2 Jepara ini.

Padahal, lanjut Indri, potensi pelajar dalam berkarya sangatlah besar. Selama pandemi, dalam satu tahun tercipta 108 karya dari satu angkatan. Jika tidak pandemi, hasil karyanya bisa berlipat ganda.

Penjualannya pun sudah ke berbagai daerah di Indonesia. Sayang, produktivitas para pelajar diikat pandemi. Sehingga, selama pandemi, produktivitasnya menurun.

Baca: Batik Bakaran Pati Dipromosikan Melalui Festival

Selain penjualannya sudah merambah ke pasar nasional, karya batik ciptaan pelajar Jepara juga kerap dipakai para model dalam acara-acara permodelan.

Terkait dengan merosotnya kemampuan membatik, kata Indri, itu bisa terlihat dari kemampuan dasar pelajar yang kurang maksimal. Para pelajar masih belum lihai memainkan canting dalam membuat batik tulis.

Penyebabnya, penyampaian materi sebagian besar melalui daring. Sehingga, daya tangkap pelajar pada teknik-teknik membatik menjadi berkurang.

“Membatik itu kan mesti ketemu, tatap muka. Supaya pelajar tahu bagaimana memegang canting sampai melukiskannya dalam kain. Tapi, beruntung saat ini sudah ada kelonggaran tatap muka. Sehingga mereka bisa kita ajari secara langsung,” tutur Indri.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...