Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Alasan-Alasan Ini yang Bikin BEM UMK Desak Rektor dan Wakilnya Mundur

Ketua BEM UMK Alfin Rizqya (memegamg mic) saat audiensi dengan pengurus yayasan UMK yang dijembatani oleh Bupati Kudus HM Hartopo. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Kudus – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Muria Kudus menuntut rektor beserta tiga wakilnya untuk mundur dari jabatannya. Ada beberapa alasan kenapa mahasiswa menuntut para petinggi kampus itu mundur.

Desakan ini disampaikan dalam surat terbuka BEM UMK pada rektor dan pengurus Yayasan Pembina (YP) UMK tertanggal 7 Oktober 2021 kemarin.

Jumat (8/10/2021) pagi ini mereka, juga telah beraudiensi dengan pengurus yayasan UMK yang dijembatani oleh Bupati Kudus HM Hartopo, untuk menyuarakan tuntutannya.

Ketua BEM UMK Alfin Rizqya menyebutkan, ada sejumlah alasan yang menguatkan desakan tersebut. Yang paling mendasar, adalah Rektor UMK Prof Darsono dianggap melanggar tata kelola di statuta dalam hal pemilihan wakil rektornya. Dalam hal ini wakil rektor II dan III.

Menurut dia, pengangkatan Dr Solekhan sebagai Wakil Rektor II dianggap cacat, karena saat dilantik masih asisten ahli melanggar SK Rektor tentang pengangkatan wakil rektor. Di mana syarat calon wakil rektor adalah minimal lektor.

Baca: Dituntut Mundur Mahasiswanya, Ini Jawaban Rektor UMK

Pengangkatan Dr Joko Utomo, sebagai Wakil Rektor III juga dianggap tidak tepat. Itu dikarenakan yang bersangkutan dalam kondisi yang sakit parah dan menahun. Sehingga tidak mampu menjalankan tugas berbulan-bulan.

Rektor Darsono, juga dianggap melanggar statute dengan mengeluarkan SK kepada Wakil Rektor I Dr Sulistyowati untuk merangkap jabatan sebagai Plt Dekan Fakultas Ekonomi Bisnis (FEB).

“Padahal ada beberapa orang dosen FEB yang memenuhi syarat menjadi dekan FEB,” ujarnya.

Baca: BEM UMK Tuntut Rektor dan Tiga Wakilnya Mundur

Wakil Rektor I Sulistyowati, lanjut Alfin, juga dianggap lebih berkuasa dibanding rektor. Pihaknya menuding, pemilihan pejabat struktural di UMK terindikasi atas dasar like/dislike dari yang bersangkutan tanpa melihat kompetensi.

“Pelaksanaannya tidak terbuka dan tidak mengumumkan hasilnya, sehingga tidak ada satupun peserta yang tahu hasilnya selain panitia. Jadi yang diangkat bukan yang terbaik, tetapi terserah yang berkuasa/bukan yang kompeten. Tes hanya alat untuk mengelabuhi senat fakultas/senat universitas,” tegasnya.

Sementara Wahyu Wardhana, Ketua Yayasan Pengurus (YP) UMK menyebut telah mendengar aspirasi langsung dari para mahasiswa. Pihaknya akan membahas tuntutan mahasiswa itu, dan menindaklanjutinya.

“Kami pastikan ada langkah tindak lanjutnya,” jelas dia.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...