Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

BURSA KETUM PBNU

Gus Baha Ikut Masuk Radar Bursa Ketum PBNU

Gus Baha dalam Tausiah Ramadan bersama PR Sukun. (MURIANEWS/Anggara Jiwandhana)

MURIANEWS, Jakarta – Ulama kharismatik, Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang dikenal dengan nama Gus Baha masuk dalam radar bursa ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Masuknya ulama asal Rembang itu terungkap lewat survei Indostrategic.

Dalam survei itu, Gus Baha menempati urutan keempat dengan persentase (12,4 persen). Dia berada dibawah KH Marzuki Mustamar (Ketua PWNU Jawa Timur) dengan dukungan tertinggi, yakni 24,7 persen, disusul KH Hasan Mutawakkil Alallah (22,2 persen), dan KH Said Aqil Siradj (14,8 persen).

Baca juga: Gus Baha: Islam Agama yang Paling Mudah

Direktur Eksekutif Indostrategic Khoirul Umam mengatakan munculnya Gus Baha menunjukan adanya keinginan warga NU untuk meregenerasi jajaran pimpinan mereka. Di samping itu, Gus Baha dinilai menjadi jawaban atas tradisi intelektual pesantren yang luntur beberapa waktu terakhir.

Dia juga berpendapat kemunculan Baha dalam bursa ketua umum PBNU dipengaruhi dinamika media sosial. Ia menilai popularitas Baha di medsos mampu menarik simpati sebagian warga Nahdliyyin.

“Media exposure Gus Baha di berbagai chanel media sosial belakangan ini juga menambah literasi keilmuan sekaligus popularitas nama Gus Baha di kalangan warga Nahdliyyin secara general, khususnya Jawa Tengah, Jogjakarta, dan Jawa Timur,” tuturnya, dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (7/10/2021).

Lebih lanjut, Umam menyampaikan sebagian warga Nahdliyyin menghendaki suksesi ketua umum PBNU. Salah satu penyebabnya adalah gaya kepemimpinan Said Aqil yang cenderung lekat dengan politik praktis.

“Akibatnya, peran PBNU sebagai Islamic-based civil society menjadi kurang optimal. Misalnya, terkait wacana kebijakan publik amandemen UU KPK hingga penyelamatan 57 pegawai senior KPK, sikap dan keberpihakan PBNU kurang jelas,” ujar Umam.

Survei itu dilakukan pada 23 Maret- 5 April 2021. Survei melibatkan 1.200 orang responden. Survei ini memiliki ambang batas kesalahan 3 persen dengan tingkat kepercayaan 95 persen.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: CNN Indonesia

Comments
Loading...