Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Alokasikan Anggaran Rp20 Miliar, NTT Biarkan Peraih Emas PON Naik Pick-Up

Atlet Muay Thai NTT, peraih medali emas pertama bagi NTT di PON, hanya naik pick-up sepulang dari Arena PON XX Papua. Kejadian ini menjadi viral setelah diunggah di Medsos. (Tangkapan Layar)

MURIANEWS, Kupang- Atlet Muay Thai asal Nusa Tenggara Timur (NTT), Susanti Ndapathaka mendapati kisah dramatis di luar gelanggang pertandingan. Atlet peraih medali emas pertama bagi NTT di arena PON ini, menjadi viral di medsos, usai dijemput dengan hanya menggunakan mobil pick-up.

Kisah dramatis Susanti ini membuat banyak kalangan mengelus dada, karena dinilai tidak memberikan penghormatan semestinya bagi peraih prestasi luar biasa itu. Sebab, Susanti Ndapathaka sendiri adalah peraih medali emas pertama bagi NTT dalam sejarah keikutsertaan propinsi ini di arena PON.

Dilansir dari CNN Indonesia, Kamis (7/10/2021), Susanti Ndapathaka dikabarkan telah pulang usai mendapatkan emas di PON XX Papua. Namun saat tiba di Bandara El Tari Kupang, atlet ini sama sekali tidak mendapatkan sambutan semestinya.

Bahkan untuk pulang ke rumahnya, dari Bandara El Tari rombongan Atlet Muay Thay NTT mencari sewaan mobil pick-up. Mobil tersebut disediakan secara swadaya, setelah rombongan tiba di bandara, Kupang.

Momen Susanti Ndapathaka naik mobil bak terbuka kemudian menjadi virall, setelah diunggah di Media Sosial. Peristiwa ini, salah satunya mendapatkan tanggapan dari Yohanes Rumat, Anggota DPRD NTT.

Kejadian ini menurut Rumat, jauh dari kesan penghargaan yang pantas bagi atlet yang telah mengharumkan nama NTT di ajang PON. Situasi ini sangat disesalkannya, karena Pemerintah NTT seperti tidak memberi perhatian pada para atlet.

“Kami sangat sesalkan peristiwa penjemputan ini dan ini memalukan karena prestasi anak NTT tidak diperhatikan oleh pemerintah NTT,” ucap Rumat, seperti dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (7/10/2021).

Rumat lalu menyinggung bahwa NTT telah punya alokasi dana sebesar Rp20 miliar yang diperuntukkan bagi kebutuhan kontingen di PON Papua. Tidak seharusnya, Pemerintah NTT membiarkan Susanti dkk sampai akhirnya menumpang mobil pick-up.

“Patut dipertanyakan dan patut diduga anggaran yang telah disepakati itu ada di mana,” tutur Rumat, dengan nada kekecewaan.

Ketua Umum KONI NTT, Andre Koreh dalam kesempatan yang berbeda menyatakan, peristiwa itu terjadi lantaran kepulangan Susanti Ndapataka dan sang pelatih tidak dikoordinasikan lebih dulu. Sehingga tidak ada persiapan apapun terkait kepulangannya.

Koreh juga menyatakan, anggaran NTT untuk PON, dikelola oleh Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi NTT. Dana hibah untuk PON tidak dikelola oleh KONI. Sehingga seharusnya, Disdikpora NTT yang mengambil inisiatif dalam masalah ini.

“Semestinya kepulangan dari atlet diketahui oleh Dinas Pendidikan dan Olahraga Provinsi NTT sebab mereka yang mengelola dana hibah PON. Semestinya KONI yang kelola anggaran PON. Tapi kemudian diambil alih sesuai kebijakan Pemda. Katanya, selama ini kurang tepat dikelola KONI,” ujar Andre Koreh yang masih berada di Papua.

Andre lalu menekankan bahwa Pemda juga tidak pernah berkoordinasi dengan KONI soal penjemputan atlet. Kehadiran beberapa pengurus KONI NTT saat penjemputan atlet muaythai NTT di Kupang, juga disebut hanya inisiatif orang perorang.

“Bagaimana mau koordinasi, nama saya saja tidak tercatat dalam daftar kontingen PON NTT sebagaimana SK Gubernur NTT tentang Kontingen Provinsi NTT pada PON XX Papua. Padahal saya Ketua Umum KONI NTT,” tutur Andre Koreh.

Penulis: Budi erje
Editor: Budi erje
Sumber: CNN Indonesia

Comments
Loading...