Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Mbuweruh-Maliter, Dialek-Dialek Jepara Ini Bikin Kangen Kota Ukir

Patung Kartini salah satu ikon di Jepara. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – Dialek atau varietas bahasa adalah identitas setiap kelompok masyarakat. Hampir setiap daerah memiliki dialek-dialek tersendiri yang menjadi ciri khas dan tak bisa dijumpai di daerah lain.

Salah satunya adalah Jepara. Kota yang berada di pesisir laut utara Jawa ini memiliki dialek khas dan unik.

Ketika mendengar dialek-dialek tertentu, dijamin kamu akan kangen dengan Kota Ukir ini. berikut adalah dialek-dialek tersebut:

1. “Cah” Jepara

Ketika kamu sebagai orang Jepara sedang berada di luar kota dan bertemu dengan orang lain, pasti yang akan ditanyakan adalah asal muasal tempat kelahiran kamu.

Sampean (Anda) orang mana? Orang Jepara pasti akan menjawabnya dengan “Cah” Jepara. Diksi ”Cah” memang sudah menjadi ciri khas yang melekat bagi masyarakat Jepara.

Kita pasti akan mendapat jawaban lain ketika yang mendapat pertanyaan itu bukanlah orang Jepara. Diksi-diksi yang akan muncul mungkin seperti arek atau wong.

2. Mbuweruh

Masyarakat Jepara biasa menambahkan suku kata dalam diksi-diksi baku. Dalam istilah linguistik atau tata bahasa, ini sering disebut aksen.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBB), aksen adalah penekanan suara pada kata atau suku kata.

Salah satunya diksi Mbuweruh yang artinya adalah ’banyak sekali’.

Baca: Puluhan Pelajar Lomba Monolog Berlogat Jeparanan

Sekilas memang terkesan lebay. Sebab, terkadang hal-hal yang mestinya bisa diucapkan biasa saja, tetapi diucapkan dengan aksen. Akhirnya, hal-hal biasa itu terkesan sangat penting, berat, atau memiliki makna lebih.

Tak hanya pada diksi mbuweruh, penggunaan aksen bagi orang Jepara juga dipakai pada hampir semua diksi harian. Salah satu tujuan menggunakan diksi beraksen ini adalah untuk meyakinkan lawan bicara tentang apa yang kita bicarakan.

3. Makno

Wis makno! Dialek ini selalu muncul setiap kali orang Jepara ketika menandaskan atau meyakinkan lawan bicaranya. Makno berarti sudah pasti.

Misalnya, saat mau mengajak teman makan pindang serani. Cah Jepara biasa berucap “Ayo makan Pindang Serani di Pantai Kartani, wis makno enak. Tak jamin.”

4. Ijek

Bagi Cah Jepara, diksi ijek memiliki makna ’masih tersisa’. Di daerah lain, orang-orang basanya menggunakan diksi ijeh atau isih.

5. Kemplung

Diksi ini biasa dipakai orang-orang Jepara ketika tidak mempercayai atau meragukan sesuatu. Alah kemplung! Begitulah ungkapan Cah Jepara ketika merasa dibohongi lawan bicaranya.

6. Teko

Bagi sebagian besar daerah di Jawa, diksi teko berarti datang dari suatu tempat. Tapi, di Jepara, diksi ini digunakan sebagai kata imbuhan. Misalnya “sinau-sinau ngono ag teko iso. Ben pinter”

7. Engkek, Maliter, Mlete

Tiga diksi ini biasa digunakan orang-orang Jepara untuk menyebut orang-orang dengan gaya hidup borjuis.

“Ha sik engkek temen kelambimu regane sejuta,” (Wah kok keren banget bajumu harganya satu juta)

“Kok maliter temen sepeda motormu anyar terus,” (Kok sombong sepeda motormu baru terus)

“Ora usah mlete dadi wong. Mending dadi wong biasa wae.” (Enggak usah bergaya/sombong jadi orang. Lebih baik jadi orang biasa saja).

Itulah beberapa dialek khas Jeparanan yang dijamin bikin kamu teringat masa-masa hidup di Jepara.

Kamu tak perlu malu menggunakan dialek-dialek itu ketika di manapun. Sebab, itulah khazanah yang membuat Jepara khas dan unik.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...