Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.

Keterbukaan Pola Pikir Sebagai Ciri Khas Warga Jepara Harus Dirawat

Para narasumber sedang membicarakan tentang cara menjaga identitas lokal Jepara di webinar yang diadakan Swara Jepara. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – Kabupaten Jepara terbentuk atas berbagai macam perbedaan. Mulai dari agama sampai cara pandang berpikir. Namun, perbedaan-perbedaan itu mampu diharmonisasikan menjadi sebuah khazanah lokal yang bernilai tinggi.

Hal itu terungkap dalam webinar yang diadakan Mahasiswa Jepara Madura (Swara), yang bertema “Sareng Sengkuyung Manunggal Cita Nguri-uri Budaya Jepara.” Seminar ini diadakan di Pendapa RA Kartini Jepara, Sabtu (2/10/2021).

Hadi Priyanto, budayawan Jepara yang menjadi salah satu narasumber, menegaskan bahwa identitas masyarakat Jepara adalah terbuka. Terbuka dalam artian bisa menerima semua cara pandang dari pihak manapun.

Hadi menyampaikan, dulu, Jepara adalah wilayah yang menjadi bandar besar. Yang menjadi jalur utama perdagangan di jalur laut.

Atas dasar letak geografis itu, masyarakat Jepara menjadi terbiasa dengan orang-orang pendatang yang memiliki cara pandang dan identitas baru.

“Jepara ini kota yang religius. Tetapi, sejak dulu, masyarakatnya selalu terbuka dengan agama manapun. Jadi, dari dulu sampai sekarang, kita ini sudah memiliki warisan keterbukaan pada hal-hal apapun,” kata Hadi.

Ia mengutarakan, identitas kebudayaan masyarakat yang terbuka itu mesti diwarisi dan dirawat generasi sekarang. Utamanya para mahasiswa, yang memiliki peran dan cara berbeda dengan generasi tua dalam melestarikan identitas lokal.

“Seperti Swara ini, saya melihat komunitas ini memiliki komitmen yang kuat untuk merawat identitas lokal. Sehingga, mereka bisa menjadi duta kebudayaan dan kesenian lokal Jepara bagi kota-kota lain. Ini juga bisa dilaksanakan mahasiswa yang menempuh pendidikan selain di Madura,” tutur Hadi.

Sementara itu, Ida Lestari, Kabid Kebudayaan pada Dinas Pariwisata da Kebudayaan (Disparbud) Jepara, menilai bahwa pekerjaan rumah (PR) bagi seluruh elemen masyarakat Jepara adalah, bagaimana tetap merawat identitas lokal supaya tetap tangguh dalam menghadapi gerusan budaya global yang serba digital.

Menurut Ida, sejatinya, tergerus atau tidaknya budaya dan kearifan lokal itu tergantung pada pribadi masing-masing masyarakat. Jika setiap pribadi memiliki tekad dan kesadaran kuat, maka budaya dan kearifan lokal Jepara tetap akan terjaga.

“Baik pemerintah maupun masyarakat sampai tingkat bawah, mestinya kita bisa bersama-sama saling menjaga identitas lokal Jepara. Misalnya melalui tradisi-tradisi masyarakat desa yang harus terus dijalankan,” tutur Ida.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...