Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Nelayan Pati Pasang Bendera Putih di Kapal Tolak Kenaikan PNBP dan PHP

Nelayan Juwana memasang bendera putih dan membentangkan spanduk di atas kapal. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Pati– Para nelayan Juwana, Kabupaten Pati, memasang bendera putih di masing-masing kapal. Hal itu sebagai bentuk protes atas diberlakukannya Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang tertuang dalam dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 85 tahun 2021. Selain itu, mereka juga menolak kenaikan Pungutan Hasil Perikanan (PHP).

Saat pemasangan bendera, sebagian nelayan juga mengenakan kostum pocong sebagai tanda bahwa nelayan saat ini sudah mati. Hal itu lantaran mereka saat ini tidak berani melaut lantaran pajak yang begitu besar.

Ketua Paguyuban Nelayan Mina Santosa Heri Budianto mengatakan, dengan adanya PP Nomor 85 Tahun 2021 sangat memberatkan nelayan. Karena terjadi kenaikan PNBP dan PHP hingga mencapai empat kali lipat.

“Kenaikan ini sangat tidak masuk akal dan sangat memberatkan nelayan. Untuk membayar PNBP dan PHP saja, pendapatan nelayan sudah minus. Kalau ini diberlakukan, maka kami akan mohok melaut,” katanya, Selasa (28/9/2021).

Menurutnya, munculnya PP tersebut bukan membantu namun justru memberatkan para nelayan. Di masa pandemi Covid-19, pemerintah seharusnya membuat kebijakan yang melindungi rakyat, bukan malah mencekik rakyat.

“Kami minta agar PP 85 tersebut dicabut. Kalau tidak dicabut, kami nelayan akan melakukan mogok massal melaut tingkat nasional,” tegasnya.

Dia menambahkan, untuk kenaikan PNBP dan PHP yang sebelumnya hanya Rp 50 juta, tapi karena adanya itu, kenaikannya pun mencapai Rp 350 juta pertahun. Padahal, untuk pendapatan kapal kantong berjaring sekali melaut tidak sampai sebesar itu.

“Untuk PHP sebelumnya hanya Rp 500 ribu per Gross Ton (GT), tetapi sekarang naik 400 persen menjadi Rp 3,3 juta per GT. Sedangkan untuk PNBP yang sebelumnya hanya Rp 40 ribu, sekarang menjadi Rp 268 ribu per GT. Ini snagat berat sekali,” tutupnya.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...