Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

KIHT Kudus Disebut Solusi Kendalikan Pabrik Rokok Ilegal

Pekerja di KIHT Kudus sedang melinting rokok, Kamis (23/9/2021). (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jawa Tengah menyebut pabrik rokok ilegal dapat dikendalikan. Salah satunya lewat Kawasan Industri Hasil Tembakau (KIHT).

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Kepala Disperindag Jawa Tengah Muhammad Arif Sambodo saat sosialisasi di KIHT Kudus, Kamis (23/9/2021). Menurut dia KIHT adalah solusi untuk mengendalikan keberadaan pabrik rokok ilegal.

“Salah satu fokus kami kan di penegakan hukum juga. KIHT ini sebagai upaya mengendalikan pabrik rokok yang kecil ilegal,” katanya.

Dengan tak adanya peredaran rokok ilegal, maka potensi pendapatan negara melalui cukai bisa maksimal. Sehingga dana yang dialokasikan untuk masyarakat juga bisa lebih tinggi.

Ia menyebut, penggunaan Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) diatur melalui Peraturan Menteri Keungan (PMK) Nomor 206 Tahun 2020, di mana ada tiga peruntukan. Yakni untuk kesejahteraan masyarakat, kesehatan, dan penegakan hukum.

“Harapannya kami dapat menghilangkan pabrik rokok ilegal. Sehingga pendapatan cukai dapat naik,” harapnya.

Baca: 14 Ton Barang Sitaan Senilai Rp 8,5 Miliar Dimusnahkan Bea Cukai Kudus, Mulai Rokok Ilegal Hingga Cukai Palsu

Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja Perindustrian Koperasi UKM Kabupaten Kudus Rini Kartika Hadi Ahmawati menjelaskan, pihaknya diminta untuk mulai menginventarisir kebutuhan KIHT pada 2022.

Sebab, di 2022 nanti Kabupaten Kudus bakal dibantu pengadaan messin linting seharga Rp 25 miliar oleh Disperindag Provinsi Jawa Tengah melalui DBHCHT provinsi.

“Nanti kami dibantu lewat DBHCHT provinsi. Salah satunya untuk pengadaan mesin linting SKM (sigaret kretek mesin),” terangnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...