Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Harga Tapioka dan Minyak Naik, Produsen Kerupuk di Pati Menjerit

Mulyono (Kanan) saat memilah kerupuk mentah untuk kemudian digoreng (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Pati – Harga bahan baku untuk pembuatan kerupuk, yakni tepung tapioka saat ini tengah naik. Selain itu, minyak goreng curah juga mengalami hal yang sama. Praktis, produsen kerupuk pun tidak bisa berbuat banyak.

Hal itu sebagaimana yang dialami oleh produsen kerupuk Desa Tunjungrejo, Kecamatan Margoyoso, Pati, Mulyono. Menurutnya, bahan baku naik sejak bulan lalu. Hingga saat ini, harganya belum juga mengalami penurunan.

Untuk tapioka yang semula harganya Rp 7.000 per kilogram, kini sudah mencapai Rp 8.000 per kilogram. Kemudian untuk minyak curah yang sebelumnya seharga Rp 10.000 per liter, kini sudah mencapai Rp 16.000 per liter.

“Ini sudah semakin tinggi harganya. Kalau saya produksi banyak, ongkos yang dikeluarkan juga tambah banyak. Apalagi minyak curah yang naiknnya begitu tinggi,” katanya, Kamis (23/9/2021).

Untuk mengatasi itu, Mulyono pun mencoba untuk mengurangi produksinya. Sebelum harga naik, sehari ia bisa menghabiskan 5 kuintal tapioka untuk diolah menjadi 100 ribu kerupuk.

”Tapi sekarang saya turunkan menjadi 2,5 kuintal untuk menghasilkan 50 ribu kerupuk,” ujarnya.

Kemudian untuk pengeringan, pihaknya tidak bisa hanya mengandalkan tenaga matahari. Apalagi cuaca saat ini kian tak menentu. Sehingga, pihaknya lebih memilih menggunakan mesin pengeringan.

“Kerupuk saya masukkan ke mesin pengering. Ini juga mengeluarkan biaya tambahan untuk menbeli gas per harinya,” jelas Mulyono.

Baca: Ibu Bayi Dibuang di Jembatan Pati Masih Pelajar, Sang Bapak Misterius

Untuk memproduksi kerupuk tersebut, Mulyono dibantu oleh sepuluh orang karyawan. Untungnya, selama pandemi ini karyawannya tidak ada yang dirumahkan. Hanya saja, tingkat produksinya sedikit dikurangi.

Selain itu, alasan lain yang membuat Mulyono mengurangi jumlah produksinya adalah karena daya beli masyarakat terhadap kerupuk sudah mulai menurun. Hal itu berlangsung sejak awal pandemi Covid-19 hingga saat ini.

Kendati demikian, Mulyono pun enggan untuk menaikkan harga kerupuk produksinya gersebut. Dia khawatir apabila pelanggan kabur lantara harga jual kerupuknya terlampau tinggi.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...