Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

PTM di Jepara Ditutup: Siswa Kecele, Dewan Meradang

Suasana ruang kelas MTs Al Muttaqin di Desa Rengging Jepara usai PTM ditutup. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – Munculnya klaster Covid-19 di MTs Al Muttaqin Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan berdampak pembelajaran tatap muka (PTM) di semua sekolah di Jepara dihentikan. Kebijakan ini menuai perdebatan dan dianggap tak adil, karena klaster hanya muncul di satu sekolah.

Kamis (23/9/2021) pagi tadi, bahkan banyak siswa yang kecele saat datang ke sekolah. Mereka kebanyakan belum tahu, jika sekolah tatap muka kembali dihentikan.

Ketua Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) Kabupaten Jepara, Darono Ardi Widodo meyebut, memang langsung menindaklanjuti instruksi Bupati Jepara Dian Kristiandi untuk menghentikan sementara PTM.

Pihaknya memastikan mulai mulai hari ini tak ada PTM di SMP negeri maupun swasta. Namun ia tak memungkiri jika siswa dan orang tuanya kecewa. Pasalnya, PTM yang baru dimulai sekitar tiga pekan itu harus kembali dihentikan.

“Ada beberapa wali murid yang belum tahu juga ternyata. Jadi tadi pagi, ada wali murid yang mengantarkan ke sekolah (SMP 6 Jepara, red). Sekitar 3 orang. Mereka juga banyak yang kecewa. Katanya waduh kok daring lagi, padahal sudah tatap muka,” kata Darono, yang juga Kepala SMPN 6 Jepara ini.

Baca: Bupati Jepara Tutup PTM: Jangan Sampai Muncul Klaster Baru

Ia berharap pekan depan PTM bisa dijalankan lagi. Pihaknya merasa dengan uji coba yang sempat dilakukan baru-baru ini, siswa dan guru sudah bersemangat dalam melakukan pembelajaran.

“Saya yakin kepada teman kami di jajaran SMP baik swasta dan negeri prokes semua. Peralatan juga sudah lengkap, baik hand sanitizer, tempat cici tangan sudah disiappkan pihak sekolah,” ucap Darono.

Sementara Ketua Komisi C DPRD Jepara Nur Hidayat tak sepakat dengan sikap bupati yang menghentikan PTM di semua sekolah.

Baca: Klaster MTs di Jepara, Puluhan Siswa Terpapar Tanpa Gejala

Klaster di sekolah memang harus disikapi serius, namun menurutnya kebijakan penutupan seharusnya tak dipukul rata.

“Jangan secara frontal penutupan dipukul rata digebyah uyah di semua pendidikan. Perlu dikaji, dipetakan dalam penerapan pembelajaran tatap muka,” kata Nur Hidayat.

Menurutnya, penutupan PTM harus dilakukan kajian yang lebih dalam. Penutupan bisa dilakukan berdasarkan area.

Baca: Kepala MTs di Jepara Menangis, Cerita Siswanya Drop Out karena Sekolah Daring

Seharusnya penerapan prokes di dunia pendidikan harus jadi teladan dan betul-betul menjadi pembelajaran yang efektif bagi masyarakat.

“Kami melihat masih lemahnya penerapan prokes bagi penyelenggaraan pendidikan apalagi di luar sekolah. Kesiapan sekolah dievaluasi,” ujar dia.

Pihaknya juga akan memanggil pihak-pihak terkait tentang munculnya klaster baru di Kabupaten Jepara khususnya sektor pendidikan.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...