Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Kepala MTs di Jepara Menangis, Cerita Siswanya Drop Out karena Sekolah Daring

Bupati Jepara Dian Kristiandi meninjau MTs Al Muttaqin di Desa Rengging Jepara. (MURIANEWS/Faqih Mansur Hidayat)

MURIANEWS, Jepara – Kembali dihentikannya pembelajaran tatap muka (PTM) di Kabupaten Jepara membuka realitas permasalahan di kalangan sekolah. Sebagian besar sekolah sudah keberatan jika pembelajaran harus kembali dijalankan dengan cara dalam jaringan (daring).

Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al Muttaqin di Desa Rengging, Kecamatan Pecangaan, Jepara jadi perhatian khusus karena menjadi klaster penyebaran corona. Ada 25 murid dan tiga guru yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Bupati Jepara Dian Kristiandi pun langsung memutuskan untuk menghentikan sementara PTM di semua sekolah di wilayahnya.

Kepada MURIANEWS, Kepala MTs Al Muttaqin, Samudi sambil menangis, menceritakan bagaimana pihaknya terpaksa mengambil keputusan untuk menggelar PTM.

Permasalahan ekonomi keluarga siswa yang menjadikan pihaknya menggelar sekolah tatap muka. Selain tidak efektif, pembelajaran daring bagi mereka juga berat di ongkos.

Para siswa yang sekolah di MTs ini belajar secara gratis. Karena kebanyakan dari mereka berasal dari keluarga yang pas-pasan.

Baca: Klaster MTs di Jepara Terungkap dari Vaksinasi, Ini Kronologinya

Karena alasan ekonomi itulah, 40 dari 200 siswanya nyaris drop out keluar dari sekolah. Menyikapi hal itu, pihak sekolah kemudian berinisiatif untuk mendatangi wali murid dari rumah ke rumah.

Namun tak semua siswa akhirnya mau kembali sekolah. Alasannya, tak mampu membiayai sekolah daring.

“Selama satu tahun tidak melakukan PTM, dengan kondisi ekonomi yang tidak memungkinkan untuk selalu menggunakan daring, kami melakukan home visit. Akhirnya dari 40 siswa itu, 18 siswa mau masuk,” terang Samudi.

Baca: MTs di Jepara dan SMP di Purbalingga Jadi Klaster Covid, PTM Ditutup

Setelah mendapatkan kesepakatan dengan para wali murid, Samudi kemudian menjalankan PTM.

Tetapi, pada perjalanannya justru menimbulkan permasalahan yang berdampak pada pemberhentian sementara PTM di semua sekolah di Jepara.

Menanggapi hal itu, Kepala Kantor Kementrian Agama (Kemenag) Kabupaten Jepara Muh Habib tidak menampik bahwa realita tentang pembelajaran daring memang menjadi masalah serius bagi sekolah-sekolah.

Terutama sekolah swasta yang mengandalkan dana yayasan dan hanya mendapat sebagian kecil dana dari pemerintah.

Bahkan, kata Habib, ternyata tidak hanya di satu sekolah saja yang siswanya putus sekolah. Sejak bulan lalu, pihaknya sudah mulai mendata anak-anak yang putus sekolah di masa pandemi.

Baca: Puluhan Siswa Terpapar Covid, PTM Seluruh Sekolah di Jepara Dihentikan Lagi

Namun, Habib belum memiliki data pasti. Sebab, kini sedang dalam masa pendataan.

“Faktanya memang begitu. Terutama di madrasah-madrasah swasta yang dikelola yayasan sendiri. Apa lagi yang di desa-desa, wali murid sudah sangat ingin PTM. Sebab mereka sudah keberatan secara ekonomi. Ada juga yang sudah kewalahan karena anak-anaknya tak lagi fokus dengan pembelajaran daring,” ungkap Habib, Kamis (23/9/2021).

Habib menyatakan, data yang paling kentara adalah menurunnya jumlah siswa baru di sekolah-sekolah yang masih menjalankan pembelajaran daring secara penuh.

Rata-rata, di masa penerimaan siswa baru beberapa bulan lalu, madrasah yang menerapkan sistem itu mengalami penurunan siswa baru sekitar 30 sampai 40 siswa.

“Kenyataannya, wali murid banyak yang lebih memilih menyekolahkan anaknya di sekolah yang sudah menjalankan PTM. Yang pembelajaran daringnya tidak penuh,” jelas Habib.

 

Reporter: Faqih Mansur Hidayat
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...