Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Teater Mina Tani Garap Film tentang Roro Mendut

Proses pembuatan film Bara (MURIANEWS/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Pati – Bagi seniman, masa sulit seperti pandemi saat ini memang harus pintar-pintar mencari peluang. Seperti Teater Mina Tani yang lama tidak melakukan pementasan, kegiatan pun kemudian dialihkan untuk memproduksi film.

Ketua Teater Minatani Pati Siwi Agustina mengatakan, untuk produksi filim ini pihaknya mengangkat judul “Bara” yang menceritakan tentang Roro Mendut.

Dalam film tersebut diceritakan bagaimana perjuangan Roro Mendut sebagai boyongan perang Mataram untuk menghindar dari pernikahan dengan Tumenggung Wiraguna.

Baginya, pernikahan dengan Wiraguna merupakan penghianatan bagi dirinya, maupun kadipaten tempatnya berasal.

Diapun memilih melawan meski bersiap dijerat dengan pajak yang tinggi. Syarat itu diberikan ke Wiraguna agar Mendut terdesak.

Namun, sebagai seorang perempuan yang memiliki aliran darah leluhur yang tak gampang menyerah Mendut memilih berjualan rokok. Syarat itupun mampu ditaklukkannya.

Proses produksi film Bara yang menceritakan kisah Roro Mendut. (MURIANEWS/Cholis Anwar)

Hal itu tentu membuat Wiraguna geram. Terlebih mengetahui jika Mendut memilih untuk menambatkan hatinya pada Pronocitro, sang penjaga kuda dari Tumenggung Wiraguna. Konflik pun memuncak.

Kisah Roro Mendut, bagi warga Pati tentu lah tidak asing. Cerita rakyat Pati itu mengulik kegelisahan tersendiri bagi anggota Teater Minatani.

Bagi mereka persoalan Mendut bukanlah sebatas percintaan belaka, namun ada tekad yang kuat dari Mendut untuk mempertahankan kehormatannya.

Kegelisahan itu dimunculkan dalam penggarapan karya. Sebelumnya cerita itu diangkat dalam sebuah panggung virtual dengan kemasan teater. Kali ini kisah Mendut itu ganti coba diangkat dengan konsep film.

“Justru pembuatan film ini menggugah kami untuk memunculkan warna baru dalam proses kreatif. Bila selama ini kami main dalam panggung nyata, sekarang kami ingin mencoba panggung film,”ujarnya.

Proses penggarapan cerita rakyat Pati itu memang terbilang cukup jarang dilakukan. Terlebih yang dilakukan oleh warga Pati sendiri.

Mereka berharap dengan diangkatnya cerita Mendut dengan konsep film dapat memperkenalkan cerita rakyat Pati tersebut kepada anak muda.

Baca: Tapa Wuda Ganjal 2 Kali Pengusulan Gelar Pahlawan Ratu Kalinyamat

Skenario ini ditulis oleh Beni Dewa dan Lacahya yang berasal dari naskah teater kemudian diadaptasi ke film. Untuk sutradaranya juga Beni Dewa dengan dibantu pengarah sinematografy Pendi Subarong serta kameraman Yovie Young.

”Kami juga berterimakasih kepada Pak Mogol yang merupakan pemain senior sekaligus pengampu kelompok ketoprak di Pati bersedia menjadi pengarah produksi serta sejumlah pihak lain yang telah membantu,” terangnya.

Dalam penggarapannya kali ini, mereka memang memadukan antara konsep tradisi, dan teater yang dituangkan dengan sentuhan sinematografi. Seperti memunculkan seni tari maupun bela diri.

“Memang cukup banyak tantangan dalam penggarapan film dengan latar kerajaan. Namun bagaimanapun kami tumbuh di Kabupaten Pati. Kota dengan seni peran ketoprak menjadi ikonnya. Kami ingin belajar dari sana,” imbuhnya.

Pengambilan gambar film tersebut dipusatkan seluruhnya di Kabupaten Pati. Hal itu lantaran lewat film tersebut ingin turut mengangkat potensi yang ada khususnya tempat wisata. Seperti halnya di Desa Jrahi, Kecamatan Gunungwungkal yang terkenal akan keindahan alam.

 

Reporter: Cholis Anwar
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...