Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Jembatan Bambu Perbatasan Kudus-Demak Ini Tak Berguna saat Musim Hujan

Warga melintasi Jembatan Sasak perbatasan Kudus-Demak. (MURIANEWS/Vega Ma’arijil Ula)

MURIANEWS, Kudus – Jembatan sasak yang terbuat dari bambu ini menjadi andalan warga di perbatasan Desa Setrokalangan, Kudus dan Desa Kedungwaru Lor, Demak, karena menyingkat waktu. Namun saat musim hujan tiba, jembatan ini jadi tak berguna.

Untuk melintasi jembatan ini, warga harus membayar Rp 2 ribu sekali melintas. Jembatan tersebut sering digunakan oleh mayoritas warga Demak yang bekerja sebagai buruh rokok di Kudus.

Namun saat musim hujan, jembatan itu akan tenggelam, sehingga perahu yang jadi andalan untuk menyeberang.

Kepala Desa Setrokalangan Didik Handono mengakui jika jembatan tersebut memang membahayakan. Bahkan tidak hanya saat musim hujan.

“Saat tidak musim hujan saja juga sebenarnya licin, karena kadang kan ada debunya di bambu jembatan itu. Kalau musim hujan juga jembatannya terendam,” katanya, Selasa (21/9/2021).

Saat musim hujan, pengendara motor yang biasa melintas harus memutar. Jika dari arah demak ke Kudus harus menuju Karanganyar terlebih dahulu dan akan tembus ke Tanggulangin.

“Yang dari Kudus ke Demak juga lewat situ. Tetapi kalau paling banyak dari Demak ke Kudus. Karena mayoritas pegawai buruh rokok yang lewat situ,” ungkapnya.

Baca: Jembatan Bambu Sasak Perbatasan Kudus-Demak, Warga Rela Bayar Daripada Memutar

Sejauh ini, pihaknya mengaku belum memiliki solusi yang konkret. Dia menyebut kawasan tempat dibangunnya jembatan sasak itu merupakan kawasan perbatasan.

“Di situ kewenangan provinsi dan pusat. Karena bukan kewenangan kami, jadi tidak mungkin kami membangun jembatan yang lebih baik,” ujarnya.

Didik melanjutkan, saat musim hujan tiba, warga yang melintas memiliki opsi untuk memutar lewat Karanganyar atau memakai perahu. Namun, untuk perahu hanya mampu diisi sepuluh orang.

“Hanya bisa menampung orang. Tidak bisa mengangkut barang atau sepeda motor. Setelah menyeberangi dengan perahu, nanti ada angkutan yang sudah menunggu untuk mengantar warga,” imbuhnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...