Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Beredar Curhatan Seorang Pengawas Ujian PPPK, Isinya Bikin Nyesek

Ilustrasi para honorer menggelar aksi di DPRD Pati. (MURIANEWS.com/Cholis Anwar)

MURIANEWS, Jakarta – Sebuah surat ditujukan untuk mas Menteri Pendidikan Kebudayaan Riset, dan Teknologi (Mendikbud Ristek) Nadiem Makarim dari pengawas ujian Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), Novi Khassifa viral di media sosial.

Isi surat yang dilengkapi tangkap layer chat WhatsApp itu diunggah akun Instagram @mike_riana. Surat tersebut bercerita soal seorang guru honorer yang sudah berusia 57 tahun mengikuti PPPK.

Si pemilik akun, dalam kolom komentarnya menyebutkan kejadian itu di Tulungagung, Jawa Timur. Namun, dia belum bisa memastikannya.

Diceritakan, guru tersebut memiliki pendapatan kurang dari Rp 500 ribu sebulan. Untuk memenuhi kebutuhannya, guru itu terpaksa mencari pendapatan tambahan dengan bekerja serabutan.

Tahun ini, secercah harapan muncul karena pemerintah membuka seleksi PPPK. Harapannya, guru memiliki kehidupan yang lebih layak.

“Tetapi tahukah mas menteri? Soal-soal yang mas menteri berikan hanya teori belaka saja. Tak sebanding dengan praktik pengabdian berpuluh-puluh tahun lamanya,” bunyi isi surat tersebut dikutip MURIANEWS, Jumat (17/9/2021).

Ujian dengan menggunakan mouse komputer membuat guru itu kesusahan. Alhasil, passing grade pun tak bisa diraih.

“Akhirnya, PASSING GRADE pun tak diraih. Pecahlah tangis beliau di dalam hati. Terlihat jelas ketika nilai-nilai itu terpampang di layar monitor. Beliau terdiam seribu bahasa,” ujarnya.

Melalui surat tersebut, si pengawas ujian PPPK itu berharap Nadiem memberikan keringanan agar guru tersebut mendapatkan kehidupan yang layak.

“Sudi kiranya mas menteri memberikan keringanan untuk melihat beliau bisa menikmati masa tua dengan sepatu dan kehidupan yang layak,” imbuhnya.

 

View this post on Instagram

 

A post shared by Mike Riana (@mike_riana)

Adapun isi lengkap surat terbuka yang viral itu, sebagai berikut:

 

Yang terhormat,

Mas menteri

Nadiem Makarim

Tak adakah rasa ngilu di dalam dada mas menteri melihat sepatu tua yang lusuh ini?

Memang benar sepatu tua ini terlihat bermerek, tetapi tahukan ini hanya sepatu loak apkiran

Tahukah Mas menteri,

Sepatu ini telah dipakai bertahun-tahun lamanya oleh si empunya

Seorang bapak dengan pakaian putih lusuh dan celana hitam yang warnanya sudah tak hitam lagi karena pudar.

Mendekati usia senja masih setia mengajari anak-anak di pelosok negeri ini membaca dan mengeja

Di saat putus pengharapan untuk mendapatkan hidup yang lebih layak. Beliau tetap semangat. Tak sekedar mengajar tetapi mendidik

Gaji di bawah lima ratus ribu sungguh tak cukup untuk makan sebulan. Apalagi untuk membeli sepatu

Terpaksa di saat pulang mengajar beliau mencari pendapatan tambahan sebagai pekerja serabutan

Tahun ini mas menteri memberikan secercah harapan untuk beliau. Program PPPK untuk memberikan harapan kehidupan yang lebih layak

Tetapi tahukah mas menteri? soal-soal yang mas menteri berikan hanya teori belaka saja. Tak sebanding dengan praktik pengabdian berpuluh-puluh tahun lamanya

Soal-soal yang membuat beliau terseok-seok ketika memegang mouse dan membuat kepalanya pening

Akhirnya, PASSING GRADE pun tak diraih. Pecahlah tangis beliau di dalam hati. Terlihat jelas ketika nilai-nilai itu terpampang di layar monitor. Beliau terdiam seribu bahasa.

Entahlah, apa yang dipikirkan. Melihatnya sayapun ikut terisak.

Memang benar beliau tak secerdas, sejenius, sekreatif mas menteri. Tetapi beliaulah yang menjadi pelita di tengah gulita buta aksara di pelosok negeri

Memang benar beliau tak pandai teknologi, tetapi tanpa teknologi beliau mampu membuat anak-anak negeri ini merangkai kata dari A hingga Z. Berhitung hal-hal dasar untuk memahami hidup

Memang benar para muridnya sebagian besar menjadi TKI dan TKW. Tapi tahukah mas menteri, bukankah mereka juga merupakan pahlawan penghasil devisa negara tercinta ini?

Beliau mempunyai andil yang besar dalam membangun negeri tercinta ini.

Sudi kiranya mas menteri memberikan keringanan untuk melihat beliau bisa menikmati masa tua dengan sepatu dan kehidupan yang layak

Tak usah diperumit

Jika tidak ada kebijakan untuk mengangkat derajat mereka, setidaknya di surga besok sepatu ini akan menjadi saksi bahwa ilmu yang beliau ajarkan sangat bermanfaat untuk keberlangsungan umat

 

Dari saya,

Novi Khassifa

Pengawas ruang PPPK

Ditulis dengan berurai air mata

 

Dilansir Detikcom, surat terbuka yang viral itu pun ditanggapi PGRI. Ketua Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Unifah Rasidi membenarkan banyak guru honorer yang tidak lolos seleksi PPPK. Dia mengaku banyak menerima laporan tersebut.

Unifah Rasidi mengatakan, seleksi PPPK ini sudah puluhan tahun dinantikan para honorer. Namun sayangnya, lanjutnya, seleksi PPPK itu tidak berpihak untuk honorer, terutama yang telah lama mengabdikan diri.

“Tapi kebijakan itu sungguh tidak berpihak kepada honorer, beda sekali dengan kebijakan dua tahun sebelumnya. Dua tahun sebelumnya adalah waktu K2, adalah rekrutmen berdasarkan, dipisah honorer itu diutamakan 35 tahun ke atas PPPK, dites sesama honorer, dan mereka yang daerah terpencil,” katanya.

Terkait seleksi yang dipukul rata, pihaknya sendiri sebenarnya sudah keberatan dan menolak hal tersebut. Menurutnya itu tidak manusiawi. Dia berpendapat, seharusnya, ada pembedaan berdasarkan usia dan masa kerja.

“Jadi bagi yang tua, yang sudah puluhan tahun, diperlakukan sama, sungguh tidak manusiawi, sungguh tidak mempunyai hati. Bahwa daerah-daerah yang jauh, komitmen guru untuk mendidik anaknya jauh lebih penting daripada semua hal yang gimik-gimik tes ini. Dan harusnya dibedakan berdasarkan usia dan masa kerja,” paparnya.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: Detikcom

Comments
Loading...