Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Guru Pesantren di Ogan Ilir Ditangkap Polisi Karena Pedofilia, Korbannya Ada 26 Orang

ILUSTRASI

MURIANEWS, Sumsel – Subdit IV Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Sumatera Selatan meringkus J (22) guru dan pengasuh salah satu Pondok Pesantren di Ogan Ilir karena berbuat pencabulan pada anak-anak atau pedofilia. Sedikitnya 26 orang anak menjadi korbannya.

Polisi menangkap J setelah salah satu orang tua korban membuat laporan. Orang tua korban sebelumnya memeriksa anaknya yang mengeluh kesakitan di daerah kemaluannya ke dokter. Akhirnya korban anak mengakui telah dicabuli oleh pelaku.

Setelah penyelidikan, polisi akhirnya membekuk pelaku di sebuah rumah di Kecamatan Lubuk Raja, Ogan Ilir. Ironisnya, pelaku melakukan perbuatan busuknya itu sejak Juni 2020 hingga Agutus 2021.

“Modus pelaku yakni mendekati saat korban tidur. Korban diiming-imingi uang puluhan ribu rupiah apabila menuruti kemauan pelaku dan mengancam akan menghukum untuk dikunci di dalam gudang apabila tidak menuruti kehendak pelaku,” kata Direktur Reskrimum Polda Sumsel Kombes Hisar Siallagan dikutip dari CNN Indonesia, Kamis (16/9/2021)

Mulanya, polisi mendapati 12 orang anak yang menjadi korban pedofilia sang guru. Namun, berjalannya pemeriksaan, pelaku bertambah menjadi 26 orang anak.

Direktur Reskrimum Polda Sumsel pun mendirikan posko pengaduan terkait kasus tersebut. Hisar memprediksi, bakal ada korban-korban lainnya yang melapor.

“Hingga saat ini, total korban yang diketahui ada 26 orang anak. Dari 26 orang tersebut, 11 orang diantaranya disodomi. Sementara yang lainnya dicabuli,” ujar Hisar.

Kepolisian juga akan melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku. Selain itu, Ditreskrimum Polda Sumsel pun telah menyurati Dinas Sosial dan UPTD Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Sumsel untuk pendampingan terhadap korban anak serta rehabilitasi trauma yang terjadi pada anak.

“Kasus ini masih kita kembangkan dan posko pelaporan tetap akan dibuka untuk para korban yang merasa belum melapor,” ujar dia.

Tersangka dijerat pasal 82 ayat 1, 2 dan 4 juncto 76 UU RI nomor 17 tahun 2016 tentang tentang perlindungan anak dengan ancaman hukuman lima maksimal 15 tahun penjara.

 

Penulis: Zulkifli Fahmi
Editor: Zulkifli Fahmi
Sumber: CNN Indonesia

Comments
Loading...