Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Harga Menjanjikan, Petani di Kudus Diajak Tanam Kacang Hijau

Bupati Kudus HM Hartopo melaksanakan panen kacang hijau di Desa Larikrejo. (MURIANEWS/Istimewa)

MURIANEWS, Kudus – Bupati Kudus HM Hartopo mendorong petani di Kabupaten Kudus khususnya di Kecamatan Undaan untuk mulai menanam tanaman palawija jenis kacang hijau saat peralihan musim tanam maupun musim tanam baru.

Mengingat saat ini, harga kacang hijau di pasaran relatif stabil dan cenderung tinggi. Ongkos perawatan yang lebih murah dibanding tanaman palawija lainnya juga jadi pertimbangan, selain tanaman tersebut tak membutuhkan banyak air.

Dicontohkan, hasil panen kacang hijau oleh petani di Desa Larikrejo, Kecamatan Undaan saat ini dibanderol dengan harga Rp 17 ribu per kilogram. Harga tersebut meningkat dibanding tahun lalu yang hanya berada di angka Rp 12.300 per kilogram.

“Saat ini nilai jualnya juga tinggi dan biayanya murah juga,” ucap Hartopo saat meninjau lahan pertanian kacang hijau di Desa Larikrejo, Rabu (15/9/2021).

Walau demikian, pihaknya berpesan pada para petani untuk mempelajari terlebih dahulu bagaimana cara menanam tanaman tersebut. Mulai dari bibitnya hingga cara menanam dan jenis tanah maupun suhu yang digunakan.

“Petani di Undaan ini masih ada yang pengetahuan belum menyeluruh, masih sepotong-sepotong, ini yang harus ditingkatan,” jelas dia.

Data dari Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kabupaten Kudus sendiri, luasan lahan pertanian di Kudus mencapai 4.000 hektare lebih. Dua per tiganya ada di Undaan.

Sementara yang sudah ditanami kacang hijau baru sekitar 200 hektare. Apabila bisa dimaksimalkan, maka hasil kacang hijau dari Kudus bisa sangat melimpah.

Untuk meningkatkan potensi tersebut, Pemkab Kudus berencana untuk membuatkan saluran irigasi permanen agar petani lebih mudah mendapatkan air untuk lahannya. Karena saat ini, petani hanya mengandalkan pompa air saja.

“Irigasi mau dibuat permanen tapi karena ada covid kena refocusing (anggaran). Bisa dari DAK (Dana Alokasi Khusus) bisa diusulkan kepala dinas. APBD kalau ada kelonggaran bisa, terus Dana Desa juga bisa. Supaya air bisa merata,” pungkasnya.

 

Reporter: Anggara Jiwandhana
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...