Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Jadug, Dalang Cilik Asal Kudus yang Luwes Mainkan Wayang Kulit

Jadug Wisnu Satata (13) saat menjadi dalang di pentas wayang kulit virtual HUT Kudus ke-472. (MURIANEWS/Yuda Auliya Rahman)

MURIANEWS, Kudus – Jadug Wisnu Satata (13) namanya, dalang cilik asal Kota Kretek yang tampil memukau saat memeriahkan pentas wayang kulit virtual menyambut Hari Jadi Kudus ke-472, Selasa (14/9/2021).

Kepiawaian tanganya dalam memainkan tokoh pewayangan kini sudah tak perlu diragukan lagi.

Jadug menceritakan, ketertarikannya untuk menjadi dalang berawal saat semasa kecil, dirinya melihat sang ayah yang juga berprofesi sebagai dalang.

“Dulu waktu TK pernah belajar wayang, tapi setelah itu berhenti dan mulai lagi itu sekitar kelas 6 SD. Bapak juga dalang, waktu itu lihat bapak main terus tertarik,” kata siswa SMP 1 Bae itu.

Meski mempelajari wayang kulit cukup sulit, Jadug pun tak pernah menyerah. Ia juga menganggap belajar menadi dalang dan tokoh pewayangan menjadi tantangan tersendiri.

“Agak sulit sih, tapi seru bisa mengetahui sifat dan tokoh-tokoh wayang. Yang paling saya suka itu tokoh pewayangan Gatotkaca yang kriterianya cenderung pendiam, baik, dan pemberani. Pentas ini kedua kalinya terjun langsung,” ucapnya.

Wahyu Tulus Widodo, ayah Jadug menjelaskan, darah seni pada  putranya itu memang mengalir dari sesepuhnya yang seorang seniman.

Hanya saja, kendala yang dihadapi putrannya semasa TK tersebut ada pada hafalan dalam membawakan dialog saat memainkan wayang.

“Saat itu pernah ndalang waktu TK masih pakai metode bisik, karena memang harusnya dalang itu harus sudah lancar nulis, baca dan menghafal, akhirnya terbentur itu dan sempat berhenti,” ucap pembina di Sanggar Widada Laras itu.

Baca: Dalang Cilik Ramaikan Pentas Wayang Kulit Virtual Sambut HUT Kudus

Menurutnya tak hanya pada hafalan, intonasi nada atau titi laras saat menjadi dalang juga menjadi kunci utama. Perlu adanya pelatihan yang berkala agar bisa membentuk titi laras anak agar sesuai dengan intonasi.

“Kendalanya ada di titi laras (nada).  Jadi titi laras itu modal utama untuk bisa mendalang, baik dari dialog hingga sulukan itu perbedaanya dari karakter titi laras,” imbuhnya.

Selang beberapa tahun, lanjut dia, putranya lantas kembali tertarik untuk kembali bermain tokoh pewayangan. Gemblengan dan bimbingan terus dilakukan kepada putranya tersebut, apalagi setelah Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus yang juga mendorong generasi dalang cilik.

“Mempersiapkan acara menyambut HUT ini, saya genjot dan latih terus di tiga bulan kemarin. Akhirnya Jadug sudah bisa memahami alur dan bisa mendialogkan cerita pewayangan dengan menggunakan hafalan dan nada yang bagus,” terangnya.

 

Reporter: Yuda Auliya Rahman
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...