Portal berita lokal yang menyajikan informasi dari Kudus, Jepara, Pati, Rembang, Blora, dan Grobogan secara cepat, tepat, dan akurat.
Banner Kuping Kiri
Banner Kuping Kiri

Varian Covid-19 Mu vs Delta, Lebih Ganas Mana?

Ilustrasi (Pixabay)

MURIANEWS, Kudus – World Health Organization (WHO) belum lama ini menetapkan adanya varian baru Covid-19 bernama Mu. Varian ini disebut-sebut mampu mengelabuhi dan menghindari kekebalan tubuh manusia.

Lalu lebih bahaya mana varian Mu dibanding varian delta?

Diketahui, varian Mu pertama muncul di Kolombia dengan nama B1.621. Saat ini kasusnya terdeteksi di Inggris, Eropa, Amerika Serikat, dan Hongkong.

Meski demikian, varian Mu diyakini oleh banyak ahli tak seganas bila dibandingkan dengan varian delta. Varian delta juga lah yang disebut-sebut menjadi biang meledaknya kasus Covid-19 beberapa waktu terakhir.

Ketua IDI Kudus dr Ahmad Syaifuddin menjelaskan, varian corona Mu dikategorikan oleh WHO sebagai varian of interest (VoI). Sedangkan varian delta masuk kategori varian of concern (VoC).

“Dari pengelompokannya sudah jelas. Jadi dari situ saja sudah kelihatan bahwa delta membutuhkan perhatian yang lebih besar dibandingkan varian Mu,” katanya, Senin (13/9/2021).

Menurutnya, suatu varian dikategorikan sebagai VoC ketika telah menimbulkan permasaahan di public health atau kesehatan masyarakat.

Sementara itu, varian corona dikategorikan VoI apabila memiliki salah satu dari empat sifat tetapi belum menjadi masalah kesehatan masyarakat.

“Keempat sifat itu seperti lebih cepat menular, sulit didiagnosis, memiliki gejala yang berbeda, dan tidak sensitif lagi terhadap antibodi,” sambungnya.

Meski varian Corona Mu diklaim belum lebih berbahaya ketimbang varian corona delta, Dokter Ahmad Syaifuddin menyampaikan agar masyarakat tetap berhati-hati.

Baca: Varian Mu Belum Terdeteksi di Indonesia, Kemenkes: Tetap Waspada!

Sebab, menurutnya varian Corona Mu yang saat ini termasuk di VoI, bisa saja berubah menjadi VoC.

“Begitu juga dari yang awalnya VoC bisa juga jadi VoI. Saat ini varian Mu belum ada temuan di Indonesia. Tetapi harus tetap waspada dengan menerapkan protokol kesehatan. Karena semua varian bisa berkembang, ” pungkasnya.

Sementara Ketua Pokja Genetik FKKMK UGM, dr. Gunadi, Sp.BA., Ph.D dikuti dari situs UGM juga menyebut jika varian Mu tak seganas varian delta. Ia juga melihat dari kategori varian Mu yang masuk dalam VoI belum VoC.

Meskipun varian baru ini belum terdeteksi di Indonesia, menurutnya perlu diantisipsi karena varian Mu diketahui menyebabkan penurunan kadar antibodi, baik karena infeksi ataupun vaksinasi.

”Hasil riset awal menunjukkan varian Mu menyebabkan penurunan kadar antibodi netralisasi baik karena infeksi alamiah maupun vaksinasi, serupa dengan varian Beta. Namun, diperlukan penelitian lebih lanjut,” terangnya.

Baca: Waspadai Varian Baru Covid-19 Mu, Jateng Beli Alat WGS

Menurutnya, Covid-19 terus bermutasi dengan memunculkan varian-varian baru yang memiliki tingkat keganasan dan keparahan yang berbeda apabila terinfeksi. Namun demikian, bagi mereka yang sudah pernah terpapar Covid-19 atau pun yang sudah mendapat vaksin sudah memiliki kekebalan alami.

“Kekebalan alami yg ditimbulkan oleh infeksi alamiah pasti ada, tapi seberapa besar bisa melindungi dari risiko terinfeksi varian lain diperlukan riset lebih lanjut,” tegasnya.

 

Reporter: Vega Ma’arijil Ula
Editor: Ali Muntoha

Comments
Loading...